triggernetmedia.com – Osteoartritis merupakan salah satu gangguan sendi yang banyak dialami masyarakat, terutama kelompok usia lanjut. Kondisi ini terjadi akibat kerusakan tulang rawan secara bertahap sehingga dapat menimbulkan nyeri, kekakuan, hingga keterbatasan gerak pada sendi.
Apoteker Bonita Dwi Anggraeni menjelaskan, penanganan osteoartritis bertujuan mengurangi nyeri, meningkatkan kemampuan gerak, serta mempertahankan kualitas hidup pasien. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah penggunaan obat sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
”Beberapa pilihan obat yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi gejala osteoartritis salah satunya adalah parasetamol yang dapat membantu meredakan nyeri pada kondisi tertentu,” jelas Bonita saat memberikan edukasi di RSUD SSMA Kota Pontianak, Rabu (4/11/2026).
Selain parasetamol, terdapat obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti ibuprofen, naproksen, dan diklofenak, yang bekerja mengurangi nyeri serta peradangan. Obat-obatan tersebut tersedia dalam berbagai bentuk sediaan, termasuk tablet dan obat oles.
Meski dapat membantu meredakan gejala, Bonita mengingatkan bahwa penggunaan obat untuk osteoartritis harus dilakukan secara hati-hati. Penggunaan OAINS, terutama dalam jangka panjang atau tanpa pengawasan tenaga kesehatan, dapat meningkatkan risiko gangguan lambung, perdarahan saluran cerna, gangguan fungsi ginjal, serta masalah pada jantung dan pembuluh darah.
Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan mengonsumsi obat secara berlebihan atau menggabungkan beberapa jenis obat pereda nyeri tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter maupun apoteker.
Bonita juga menekankan pentingnya memperhatikan dosis, aturan pakai, dan kondisi kesehatan masing-masing individu sebelum menggunakan obat. Pasien dengan riwayat penyakit tertentu, seperti gangguan ginjal, penyakit jantung, atau gangguan lambung, perlu lebih berhati-hati dalam menggunakan obat pereda nyeri.
Selain itu, pasien perlu menyampaikan informasi mengenai obat-obatan yang sedang dikonsumsi kepada tenaga kesehatan. Informasi tersebut diperlukan untuk membantu menentukan pilihan terapi yang sesuai sekaligus meminimalkan risiko interaksi obat.
“Dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai obat osteoartritis, diharapkan penggunaan obat dapat dilakukan secara lebih bijak, tepat, dan aman. Sebab, keberhasilan penanganan osteoartritis tidak hanya bergantung pada obat yang dikonsumsi, tetapi juga pada kesadaran pasien dalam menjaga kesehatan sendi dan menerapkan pola hidup sehat secara berkelanjutan,” pungkasnya.










