triggernetmedia.com – Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mendorong anak muda Indonesia memanfaatkan peluang kerja di luar negeri di tengah tantangan penyerapan tenaga kerja di dalam negeri. Meski demikian, ia menegaskan bahwa calon pekerja migran perlu memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional.
Sarmuji menyebut anak muda boleh mencari pekerjaan ke luar negeri, asalkan terlebih dahulu mendapatkan pelatihan dari Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan Kementerian Perindustrian.
“Teman-teman yang muda, boleh kabur ke luar negeri boleh, tapi setelah dilatih oleh P2MI dan Kementerian Perindustrian,” kata Sarmuji di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Besarnya peluang tersebut terlihat dari data potensi lowongan kerja luar negeri pada 2026 yang mencapai sekitar 291.000 posisi. Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin mengatakan, angka itu berasal dari permintaan tenaga kerja yang telah diverifikasi oleh perwakilan Indonesia di luar negeri.
Namun, tenaga kerja Indonesia baru mampu mengisi sekitar 25 persen dari potensi lowongan tersebut. Artinya, sekitar 75 persen peluang kerja yang tersedia masih belum dimanfaatkan.
“Masih ada 75 persen lagi yang belum kita bisa isi. Artinya demand-nya sangat tinggi,” ujar Mukhtarudin.
Untuk meningkatkan penempatan pekerja migran, pemerintah menyiapkan pelatihan berbasis permintaan pasar atau demand-based training. Skema ini dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan pemberi kerja di luar negeri terlebih dahulu, kemudian menyiapkan pelatihan sesuai keterampilan yang dibutuhkan.
Sarmuji menjelaskan, Kementerian Perindustrian memiliki fasilitas pendidikan dan pelatihan yang dapat mendukung program tersebut. Fasilitas itu mencakup balai diklat industri, politeknik, sekolah menengah kejuruan (SMK), serta akademi komunitas.
Khusus balai diklat industri, kapasitas pelatihan Kemenperin mencapai 11.000 peserta per tahun. Namun, peserta yang telah masuk dalam kerja sama dengan Kementerian P2MI saat ini baru sebanyak 1.066 orang.
“Memang kalau bisa tahun depan kita full-kan 11.000. Itu baru balai diklat, belum politekniknya, SMK-nya, semuanya punya keterampilan khusus,” ungkap Sarmuji.
Ia menambahkan, perubahan teknologi membuat kebutuhan industri terhadap tenaga kerja semakin dinamis. Karena itu, peningkatan kompetensi menjadi salah satu langkah penting agar tenaga kerja Indonesia dapat memenuhi kebutuhan industri sekaligus bersaing di pasar global.
Menurut Sarmuji, besarnya jumlah penduduk usia produktif merupakan modal yang perlu dimanfaatkan melalui pendidikan dan pelatihan yang tepat.
“Kita punya bonus demografi, punya tenaga kerja produktif yang banyak, yang kalau dilatih bisa mengisi lapangan kerja yang ada di luar negeri,” tuturnya.








