triggernetmedia.com – Kehadiran teknologi tepat guna berupa mesin pencacah limbah sayur memberikan manfaat nyata bagi Kamaludin, peternak bebek, kelinci, dan kambing di Kelurahan Bunut, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau. Mesin yang dikembangkan mahasiswa di bawah bimbingan dosen Program Studi Di Luar Kampus Utama (PSDKU) Politeknik Negeri Pontianak (Polnep) di Sanggau tersebut membantu mempermudah proses pengolahan bahan pakan ternak.
Penerapan mesin pencacah limbah sayur ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan di peternakan Kamaludin. Melalui program tersebut, tim PKM berupaya menghadirkan solusi praktis untuk mengatasi kendala pengolahan bahan pakan yang selama ini masih dilakukan secara manual.
Kamaludin mengungkapkan bahwa penggunaan mesin pencacah membuat pekerjaan di peternakannya menjadi lebih ringan, terutama saat menyiapkan bahan pakan dari limbah sayuran.
“Dengan adanya mesin pencacah limbah sayur ini, pekerjaan saya di peternakan menjadi lebih mudah dan cepat, khususnya dalam mempersiapkan bahan pakan,” ungkap Kamaludin.
Menurutnya, penggunaan mesin tersebut dapat menghemat waktu dan tenaga dalam proses pencacahan. Ia berharap fasilitas yang diberikan melalui kegiatan PKM ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk menunjang aktivitas peternakan sehari-hari.
“Dengan mesin ini, proses pencacahan bisa lebih efisien, baik dari segi waktu maupun tenaga,” tambahnya.
Program PKM bertajuk Penerapan Teknologi Tepat Guna Mesin Pencacah Limbah Sayur untuk Efisiensi Pakan Ternak ini dipimpin oleh Latifah, ST, MT, selaku ketua tim. Kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh kebutuhan peternak terhadap sarana pendukung yang mampu mempercepat pengolahan bahan pakan, khususnya limbah sayuran yang berpotensi dimanfaatkan kembali.
Latifah menjelaskan bahwa pencacahan bahan pakan secara manual membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi peternak, terutama ketika volume bahan yang harus diolah cukup besar.
“Selama ini, proses pencacahan yang dilakukan secara manual membutuhkan waktu dan tenaga yang relatif besar, terutama ketika bahan yang harus diolah tersedia dalam jumlah banyak,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada penggunaan mesin, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih optimal. Limbah sayuran yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah dapat diolah kembali menjadi bahan yang bermanfaat untuk mendukung kegiatan peternakan.
Mesin pencacah limbah sayur dirancang untuk memperkecil ukuran bahan dan menghasilkan cacahan yang relatif seragam. Dengan demikian, proses penyiapan dan pencampuran bahan pakan diharapkan menjadi lebih praktis dan efisien.
“Penerapan teknologi tepat guna ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pengelolaan usaha peternakan. Efisiensi dalam pengolahan bahan pakan menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung peningkatan produktivitas dan keberlanjutan usaha peternakan,” ujar Latifah.
Selain memperkenalkan teknologi, tim PKM juga memberikan pendampingan kepada mitra agar mesin dapat digunakan dengan benar dan aman. Pendampingan meliputi pengenalan bagian dan komponen mesin, penjelasan prinsip kerja, demonstrasi pengoperasian, praktik penggunaan, serta pemeliharaan dan keselamatan kerja.
Melalui tahapan tersebut, Kamaludin memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung penggunaan mesin pencacah limbah sayur. Pembekalan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan mitra sehingga mampu mengoperasikan serta merawat mesin secara mandiri.
“Kami tidak hanya memperkenalkan mesin, tetapi juga memberikan pendampingan agar mitra mampu mengoperasikan dan melakukan perawatan mesin secara mandiri. Dengan demikian, teknologi yang diterapkan dapat terus dimanfaatkan meskipun kegiatan PKM telah berakhir,” terang Latifah.
Pelaksanaan PKM ini menjadi salah satu wujud kontribusi PSDKU Polnep di Sanggau dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Keterlibatan mahasiswa dalam pengembangan dan penerapan mesin juga menjadi sarana untuk mengimplementasikan pengetahuan akademik dalam menghadapi persoalan nyata di lapangan.
Ke depan, pengembangan teknologi tepat guna diharapkan dapat terus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan karakteristik usaha lokal. Melalui pemanfaatan teknologi yang sederhana, aplikatif, dan disertai pendampingan, perguruan tinggi dapat turut mendorong efisiensi kerja, optimalisasi sumber daya lokal, serta keberlanjutan usaha peternakan masyarakat.










