triggernetmedia.com – Pemerintah Kota Pontianak bersama Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa terus memperkuat langkah penanganan gangguan pasokan air bersih akibat intrusi air laut yang mencemari sumber air baku di Waduk Penepat.
Intrusi air laut membuat kadar garam air baku meningkat hingga lebih dari 1.000 miligram per liter. Kondisi tersebut juga disertai tingkat kekeruhan yang cukup tinggi sehingga menyulitkan proses pengolahan air.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, pemerintah telah menyiapkan sumber air baku alternatif dari Desa Radak, Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya. Tiga unit tongkang disiapkan untuk mengangkut air tersebut ke Pontianak.
Menurut Edi, kualitas air dari sumber alternatif itu jauh lebih baik karena kadar garamnya berada di bawah 10 miligram per liter. Air tersebut nantinya akan dibawa ke Pontianak untuk diolah melalui Instalasi Pengolahan Air (IPA) Parit Mayor.
Pasokan tersebut diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di wilayah Pontianak Timur dan Nipah Kuning Dalam, sebelum selanjutnya dialirkan melalui sistem IPA Selat Panjang.
Selain mendatangkan air baku dari sumber alternatif, pemerintah juga berencana menambah kapasitas pengolahan menggunakan teknologi reverse osmosis (RO). Sumber air lainnya dengan kadar garam sekitar 47 miligram per liter juga tengah dipersiapkan untuk mendukung IPA 3 dengan potensi debit mencapai 100 liter per detik.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa Abdullah menjelaskan, tingginya kadar garam akibat intrusi air laut tidak hanya menyulitkan proses pengolahan, tetapi juga berpotensi memengaruhi peralatan instalasi pengolahan air.
Kapasitas pengolahan air Perumda saat ini mencapai sekitar 2.300 liter per detik. Namun, keterbatasan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) membuat perusahaan membutuhkan sumber air baku dengan kadar garam yang lebih rendah agar proses pengolahan dapat berjalan optimal.
Untuk menjaga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi, distribusi air bersih darurat dilakukan menggunakan reservoir dan armada mobil tangki. Di Perum 3, pasokan awal mencapai 1,5 juta liter dengan sekitar 1,3 juta liter telah disalurkan kepada masyarakat.
Sementara itu, reservoir Wonoyoso menampung sekitar 500 ribu liter dan sekitar 350 ribu liter telah didistribusikan. Adapun Boster Kesehatan menyiapkan 30 ribu liter dengan sekitar 20 ribu liter telah digunakan.
Distribusi air dilakukan hampir ke seluruh wilayah kecamatan di Kota Pontianak, meliputi Pontianak Barat, Pontianak Utara, Pontianak Timur, Pontianak Kota, Pontianak Selatan, dan Pontianak Tenggara. Jumlah pasokan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.
Perhatian khusus juga diberikan kepada rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang membutuhkan pasokan air secara berkelanjutan. Sejumlah fasilitas yang mendapat distribusi antara lain RSUD Sudarso, rumah sakit milik pemerintah kota, Yarsi, Rumah Sakit Universitas Tanjungpura, hingga klinik yang melayani pasien cuci darah.
Edi menegaskan, air hasil pengolahan dari sumber alternatif akan diberikan secara gratis untuk sementara waktu kepada masyarakat terdampak. Namun, pasokan tersebut belum dapat langsung dialirkan melalui sambungan rumah karena jumlah tongkang pengangkut masih terbatas.
Penambahan jumlah tongkang dinilai dapat meningkatkan volume air yang dibawa ke Pontianak sehingga pasokan air bersih kepada masyarakat dapat diperluas.










