triggernetmedia.com – Pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) Kota Pontianak resmi memasuki tahap konstruksi. Proyek tersebut ditujukan untuk memperbaiki sistem sanitasi sekaligus mengurangi risiko pencemaran lingkungan akibat limbah rumah tangga.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan jaringan utama SPALD-T akan dibangun dari kawasan Nipah Kuning Dalam hingga Martapura. Pemasangan jaringan menggunakan metode galian terbuka dan jacking, menyesuaikan kondisi serta kedalaman jalur pipa.
Menurut Edi, pipa primer akan ditanam pada kedalaman sekitar 6 hingga 12 meter. Jaringan tersebut kemudian terhubung dengan pipa sekunder dan tersier yang menuju rumah, perkantoran, maupun tempat usaha.
Air limbah yang berasal dari aktivitas rumah tangga, seperti toilet, kamar mandi, mencuci, dan sumber domestik lainnya, nantinya dialirkan melalui jaringan perpipaan. Limbah kemudian dibawa menuju instalasi pengolahan untuk diproses sebelum dilepas kembali ke lingkungan.
SPALD-T Pontianak ditargetkan mampu mengolah sekitar 24 ribu meter kubik air limbah per hari. Pemerintah juga menargetkan lebih dari 15 ribu sambungan rumah, kantor, dan tempat usaha dapat terlayani.
Namun, pelaksanaan proyek menghadapi sejumlah tantangan. Kondisi tanah Pontianak yang lunak dan bergambut serta tingginya muka air tanah menjadi faktor teknis yang harus diperhitungkan. Selain itu, sejumlah jalur pembangunan berada di kawasan padat aktivitas dan menjadi akses kendaraan menuju pelabuhan.
Edi mengatakan kondisi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan lalu lintas maupun dampak sosial selama pekerjaan berlangsung. Pemerintah daerah pun telah menyiapkan langkah mitigasi untuk mengurangi dampak pembangunan terhadap aktivitas masyarakat.
Pembangunan jaringan dilakukan pada badan jalan atau ruang milik jalan sehingga tidak memerlukan pembebasan lahan. Meski demikian, masyarakat tetap akan menghadapi sejumlah dampak sementara, seperti perlambatan arus kendaraan serta aktivitas alat berat dan material konstruksi di sekitar lokasi.
Pengelolaan SPALD-T nantinya akan dilakukan Perumda Tirta Khatulistiwa melalui unit khusus yang menangani bidang sanitasi. Pembangunan direncanakan berlangsung secara bertahap hingga 2030 dengan total kebutuhan anggaran sekitar Rp1,7 triliun.
Plt Direktur Sanitasi Kementerian Pekerjaan Umum Sandhi Eko Bramono mengatakan pengelolaan air limbah memiliki kaitan erat dengan penyediaan air bersih. Pengolahan limbah yang baik dapat membantu menjaga kualitas sumber air baku sekaligus mendukung keamanan sistem penyediaan air minum.
Menurut Sandhi, kondisi geografis Pontianak membuat pembangunan SPALD-T membutuhkan ketelitian tinggi. Sebab, jaringan air limbah pada umumnya bekerja dengan sistem gravitasi dan tidak menggunakan tekanan.
Kemiringan serta posisi pipa harus dibangun secara presisi agar aliran limbah dapat berjalan sesuai rancangan. Setelah itu, air limbah akan diproses di dua instalasi pengolahan yang berada di kawasan Nipah Kuning dan Martapura.
Air hasil pengolahan atau efluen nantinya harus memenuhi standar baku mutu lingkungan sebelum dilepas ke badan air. Proses pengolahan juga ditujukan untuk menghilangkan mikroorganisme patogen sehingga limbah tidak lagi menjadi sumber pencemaran biologis.
Dengan pembangunan SPALD-T ini, Pemerintah Kota Pontianak berharap sistem sanitasi dapat semakin tertata. Dalam jangka panjang, proyek tersebut diharapkan menciptakan lingkungan pe











