triggernetmedia.com – Indonesia melihat peluang besar untuk memperluas perdagangan dan investasi melalui kerja sama negara-negara BRICS. Hal itu mengemuka setelah para Menteri Perdagangan BRICS menegaskan komitmen menyelesaikan Strategy for BRICS Economic Partnership 2030 sebagai pedoman kerja sama ekonomi hingga 2030.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, strategi tersebut penting untuk memperkuat kemitraan ekonomi BRICS sekaligus merespons perubahan dan tantangan perdagangan global.
“Indonesia menyambut baik penyelesaian Strategy for BRICS Economic Partnership 2030. Strategi ini diharapkan menjadi pedoman dalam memperkuat kemitraan ekonomi BRICS sekaligus membuka lebih banyak peluang perdagangan, investasi, dan pembangunan yang inklusif bagi seluruh negara anggota,” ujar Budi, Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, penguatan kerja sama BRICS perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga sistem perdagangan multilateral yang berbasis aturan. Indonesia tetap mendorong peran World Trade Organization (WTO) sebagai fondasi perdagangan global yang kuat, inklusif, dan mampu beradaptasi terhadap berbagai tantangan.
“Indonesia menegaskan pentingnya menjaga sistem perdagangan multilateral yang berbasis aturan melalui WTO yang kuat, inklusif, dan adaptif terhadap tantangan global. Pada saat yang sama, BRICS perlu terus menghadirkan kerja sama nyata yang memberikan manfaat langsung bagi pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang,” jelasnya.
Dalam pertemuan tersebut, sebagian besar substansi pembahasan ekonomi berhasil disepakati. Meski demikian, negara-negara anggota BRICS belum mencapai kesepakatan terkait pernyataan bersama atau joint statement.
Salah satu fokus kerja sama yang dibahas adalah penguatan internasionalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Negara-negara BRICS mendorong peningkatan akses pembiayaan perdagangan, termasuk melalui prinsip panduan dalam penilaian kredit dan Jaipur Consensus untuk mengkaji mekanisme invoice discounting di antara negara anggota.
Kerja sama juga diarahkan pada penguatan rantai nilai global. Pembahasan Workplan on BRICS Shared Understanding on Global Value Chains mencakup digitalisasi dokumen perdagangan, peningkatan konektivitas, penguatan kawasan ekonomi khusus, serta peningkatan kapasitas industri.
Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan rantai nilai global yang lebih tangguh, efisien, inklusif, dan berkelanjutan.
Selain perdagangan barang, BRICS mulai memperkuat kerja sama di sektor jasa digital lintas negara. Inisiatif BRICS Principles to Facilitate Digitally Delivered Services Across Borders diarahkan untuk memperluas perdagangan intra-BRICS, meningkatkan keterampilan digital, serta memperkuat ekonomi digital di negara-negara berkembang.
Budi menilai berbagai inisiatif tersebut sejalan dengan kepentingan Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Indonesia mendukung penuh berbagai inisiatif konkret BRICS yang memperkuat perdagangan, mulai dari memberikan kemudahan akses pembiayaan bagi UMKM, membangun nilai pasok yang lebih tangguh, serta mendorong transformasi digital,” katanya.
Sementara itu, Menteri Perdagangan dan Industri India Piyush Goyal mengatakan, negara-negara BRICS telah mencatat kemajuan dalam memperkuat kerja sama perdagangan dan ekonomi selama masa Keketuaan India.
Piyush berharap berbagai agenda yang telah dibangun dapat terus dilanjutkan ketika China mengambil alih Keketuaan BRICS pada 2027.
“Saya sangat yakin ketika Tiongkok melanjutkan Keketuaan BRICS pada 2027, kita akan terus melangkah maju bersama, memperkuat kerja sama, dan bersama-sama mewujudkan kemakmuran yang lebih besar bagi seluruh negara anggota BRICS,” pungkasnya.
Bagi Indonesia, penguatan kerja sama BRICS membuka ruang lebih luas untuk memperluas pasar ekspor, menarik investasi, memperkuat UMKM, serta meningkatkan peran dalam rantai nilai global. Strategi ekonomi hingga 2030 diharapkan dapat menjadi pijakan untuk mengoptimalkan peluang tersebut di tengah perubahan peta perdagangan dunia.











