Trigger Netmedia
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Sospolhukam
    • Metropolitan
    • Nasional
    • Internasional
  • Kalbar
    • Pontianak
    • Kayong Utara
    • Ketapang
    • Kubu Raya
    • Kapuas Raya
    • Landak
    • Mempawah
    • Sanggau
    • SingBeBas
    • Kapuas Hulu
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Bisnis
    • Industri
    • Makro
    • IHSG
    • Fintech
  • Edutaiment
    • Literasi
    • Edukasi
    • Budaya
    • Gadgets
    • IT
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Kabar Arena
    • Otomotif
  • Infotainment
    • Selebritis
    • Film
    • Music
    • Zodiak
    • Comunity
    • Kekinian
    • Fashion
    • Milenial
  • Kuliner
    • Food
    • Pesona Dunia
    • Pesona Nusantara
  • Pariwara
    • Videotron
    • Foto
    • Kanal Iklan
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Sospolhukam
    • Metropolitan
    • Nasional
    • Internasional
  • Kalbar
    • Pontianak
    • Kayong Utara
    • Ketapang
    • Kubu Raya
    • Kapuas Raya
    • Landak
    • Mempawah
    • Sanggau
    • SingBeBas
    • Kapuas Hulu
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Bisnis
    • Industri
    • Makro
    • IHSG
    • Fintech
  • Edutaiment
    • Literasi
    • Edukasi
    • Budaya
    • Gadgets
    • IT
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Kabar Arena
    • Otomotif
  • Infotainment
    • Selebritis
    • Film
    • Music
    • Zodiak
    • Comunity
    • Kekinian
    • Fashion
    • Milenial
  • Kuliner
    • Food
    • Pesona Dunia
    • Pesona Nusantara
  • Pariwara
    • Videotron
    • Foto
    • Kanal Iklan
No Result
View All Result
Trigger Netmedia
No Result
View All Result
Home Sospolhukam

Lomba 17 Agustus Bergeser ke Esports, Tradisi Beradaptasi di Era Digital

Mobile Legends dan PUBG Jadi Ruang Baru Gen Z Merayakan Kemerdekaan

TriggerNetMedia by TriggerNetMedia
9 Agustus 2026
in Headline, Nasional, News, Serba-serbi, Sorotan, Sospolhukam
0
Lomba 17 Agustus Bergeser ke Esports, Tradisi Beradaptasi di Era Digital

ilustrasi lomba balap karung. (Gemini AI)

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

triggernetmedia.com – Perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia selama ini lekat dengan berbagai permainan tradisional, mulai dari balap karung, makan kerupuk, lomba kelereng, hingga panjat pinang. Namun, perkembangan teknologi digital perlahan membawa perubahan pada cara masyarakat, khususnya generasi muda, memeriahkan momentum 17 Agustus.

Kini, lomba esports seperti Mobile Legends dan PUBG mulai hadir dalam perayaan kemerdekaan di tingkat kampung. Fenomena tersebut menjadi warna baru dalam tradisi yang selama ini identik dengan aktivitas fisik dan permainan konvensional.

Kehadiran esports dalam perayaan kemerdekaan pun memunculkan perdebatan. Sebagian masyarakat melihatnya sebagai tanda bergesernya cara generasi muda berinteraksi dan berkumpul. Namun, ada pula yang menilai fenomena tersebut sebagai bentuk adaptasi tradisi terhadap perkembangan zaman.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Odam Asdi Artosa, mengatakan perubahan tersebut merupakan bagian dari dampak perkembangan teknologi digital dan internet yang semakin kuat memengaruhi kehidupan masyarakat.

“Kalau melihat perubahan ini sendiri sebenarnya kita bisa melihat dari disrupsi pertama ya, digital dan internet, itu kan sangat mempengaruhi,” kata Odam kepada Suara.com, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Odam, sebelum era digital berkembang pesat, kegiatan permainan dalam perayaan kemerdekaan lebih banyak mengandalkan aktivitas fisik. Anak-anak dan warga berkumpul secara langsung untuk mengikuti berbagai perlombaan yang membutuhkan keterampilan fisik maupun kerja sama kelompok.

Namun, penetrasi internet membuat permainan berbasis platform digital semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi Z. Kondisi tersebut kemudian turut memengaruhi bentuk perlombaan yang dipilih masyarakat saat merayakan kemerdekaan.

Odam mengaitkan fenomena tersebut dengan konsep network society yang dikemukakan Manuel Castells serta platform society dari Jose van Dijk. Menurutnya, kehidupan masyarakat saat ini semakin terkoneksi melalui platform digital, termasuk dalam aktivitas hiburan dan permainan.

“Jadi lomba-lomba itu banyak yang mengimplementasikan lomba-lomba ala esports,” ujarnya.

Perkembangan esports juga mendapat legitimasi karena telah dipandang sebagai salah satu cabang olahraga. Kehadirannya tidak lagi terbatas pada kompetisi profesional atau ajang internasional, tetapi mulai masuk ke ruang-ruang sosial masyarakat.

“Sudah menjadi hal yang umum ketika kemudian pemerintah kita juga ternyata mengafirmasi bahwa kegiatan-kegiatan yang sifatnya game ini sebagai kegiatan yang berbentuk olahraga,” tuturnya.

Kedekatan generasi muda dengan esports terlihat dari perubahan pola permainan sehari-hari. Permainan tradisional seperti kelereng semakin jarang ditemukan di kalangan anak muda, sementara permainan digital seperti PUBG dan Mobile Legends justru menjadi bagian dari keseharian mereka.

Esports Tidak Otomatis Mengikis Gotong Royong

Meski bentuk perlombaan berubah, Odam menilai kehadiran esports tidak serta-merta menghilangkan semangat gotong royong dalam perayaan kemerdekaan.

Menurutnya, masyarakat di tingkat kampung terdiri atas berbagai kelompok usia dengan karakter dan kebiasaan yang berbeda. Karena itu, permainan tradisional dan esports dapat berjalan berdampingan.

Lomba seperti panjat pinang, balap karung, dan voli tetap memiliki daya tarik bagi generasi yang lebih tua maupun milenial. Sementara itu, esports dapat menjadi ruang partisipasi bagi Gen Z yang lebih akrab dengan teknologi digital.

“Saya kira kalau mengikis (gotong royong) tidak ya,” ujarnya.

Odam justru melihat lomba esports sebagai bentuk pelengkap. Kehadirannya tidak harus menggantikan seluruh perlombaan tradisional, melainkan dapat ditempatkan sejajar sehingga semakin banyak kelompok masyarakat memiliki ruang untuk berpartisipasi.

“Munculnya lomba-lomba berupa esports ini, saya kira justru melengkapi momentum yang ada saat ini,” tandasnya.

Medium Berubah, Nilai Kompetisi Tetap Ada

Menurut Odam, perubahan dari permainan fisik menuju permainan digital tidak serta-merta menghilangkan nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah kompetisi. Kemampuan, kerja sama, strategi, kepercayaan, dan keinginan untuk mencapai tujuan bersama tetap menjadi bagian penting.

Ia merujuk pada pemikiran Pierre Bourdieu mengenai kapital budaya, sosial, dan simbolik. Dalam konteks tersebut, permainan tradisional maupun esports sama-sama membutuhkan keterampilan tertentu. Perbedaannya hanya terletak pada ruang dan medium yang digunakan.

Balap karung, misalnya, membutuhkan kemampuan fisik dan keseimbangan. Sementara Mobile Legends menuntut kemampuan bermain, strategi, komunikasi, dan pengambilan keputusan melalui perangkat digital.

“Jadi kalau kita ngomongin tentang cultural capital, antara balap karung dan Mobile Legends sama-sama ada skill-nya. Cuma kemudian yang berbeda adalah ranahnya,” ungkapnya.

Hal serupa juga terlihat dari sisi modal sosial. Panjat pinang membutuhkan kerja sama antarpeserta untuk mencapai tujuan bersama. Dalam permainan seperti Mobile Legends atau PUBG, pemain juga harus membangun komunikasi, kepercayaan, dan strategi untuk memenangkan pertandingan.

“Jadi harus tahu menyerang tower yang mana, harus melihat musuh di arah mana. Nah, itu sebenarnya sama juga secara modal sosialnya,” tambahnya.

Dengan demikian, perbedaan utama terletak pada medium. Permainan tradisional dilakukan secara fisik, sedangkan esports berlangsung melalui perangkat digital dan jaringan internet.

“Sehingga kerja samanya tetap sama, tetapi kemudian ranahnya yang berbeda,” tegas Odam.

Munculnya Ruang Sosial Baru

Kehadiran teknologi digital juga tidak bisa langsung dijadikan alasan untuk menyebut Gen Z semakin jauh dari kehidupan sosial. Menurut Odam, anggapan tersebut terlalu sederhana jika tidak melihat bagaimana sebuah kegiatan esports diselenggarakan.

Internet memang memungkinkan seseorang bermain dan berkomunikasi tanpa berada di tempat yang sama. Namun, lomba esports dalam perayaan kemerdekaan di lingkungan masyarakat justru dapat menjadi ruang pertemuan baru.

Peserta tetap dapat dikumpulkan di satu lokasi, berinteraksi secara langsung, dan merasakan suasana kebersamaan meskipun pertandingan dilakukan menggunakan perangkat digital.

“Jadi ketemu, tapi memang lombanya memang lewat gawai gitu, perbedaannya,” ucapnya.

Karena itu, persoalan utamanya bukan sekadar apakah permainan menggunakan teknologi atau tidak, melainkan bagaimana kegiatan tersebut dirancang. Jika esports tetap menghadirkan warga dalam satu ruang sosial, maka permainan digital tidak otomatis menghilangkan interaksi dan kebersamaan.

Sebaliknya, keterasingan sosial lebih mungkin terjadi apabila aktivitas dilakukan secara individual dan tanpa ruang perjumpaan dengan masyarakat sekitar.

Pada akhirnya, pergeseran dari balap karung menuju Mobile Legends tidak serta-merta menunjukkan hilangnya tradisi. Tradisi justru dapat beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi dan kebiasaan generasi yang menjalankannya.

Cara generasi muda berkumpul mungkin berubah, dari lapangan kampung ke layar ponsel. Namun, kebutuhan untuk terhubung, berkompetisi, bekerja sama, dan menjadi bagian dari komunitas tetap ada.

Tradisi kemerdekaan pun tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang sama. Selama nilai kebersamaan, sportivitas, dan semangat merayakan kemerdekaan tetap terjaga, perubahan medium dapat menjadi bagian dari perjalanan tradisi itu sendiri.

About Author

TriggerNetMedia

See author's posts

Tags: # permainan tradisional#Sosiologi#UGMBudaya digitalDigitalisasieSportsgen zGenerasi MudaGotong RoyongHUT Kemerdekaan RIInteraksi sosialLomba 17 AgustusMobile LegendsNetwork societyOdam Asdi ArtosaPerubahan budayaPlatform societyPUBGTradisi dan teknologiTradisi kemerdekaan
Previous Post

Jalan Sehat Warga Pontianak Selatan Sambil Pungut Sampah

TriggerNetMedia

TriggerNetMedia

Stay Connected test

  • 24k Followers
  • 23.9k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
AKI dan AKB Masih Tinggi, Indonesia Terpaut Jauh dari Target SDGs

AKI dan AKB Masih Tinggi, Indonesia Terpaut Jauh dari Target SDGs

16 Juli 2025
Jabat Dewan Syuro, Anggota Komisi Fatwa MUI Berperan Beri Masukan dan Nasihat ke JI

Jabat Dewan Syuro, Anggota Komisi Fatwa MUI Berperan Beri Masukan dan Nasihat ke JI

17 November 2021
Kronologi Polemik Ijazah Jokowi: Dari Gugatan Hukum hingga Drama Politik

Kronologi Polemik Ijazah Jokowi: Dari Gugatan Hukum hingga Drama Politik

18 Juli 2025
Status PPPK Paruh Waktu Dihapus, Revisi UU ASN Kembalikan Struktur Dua Pilar

Status PPPK Paruh Waktu Dihapus, Revisi UU ASN Kembalikan Struktur Dua Pilar

26 November 2025
Bandara Rahadi Oesman Ketapang Hentikan Sementara Layanan Penerbangan Komersial

Bandara Rahadi Oesman Ketapang Hentikan Sementara Layanan Penerbangan Komersial

0
2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

0
14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

0
Prabowo Resmikan Kantor DPD Gerindra di Banten

Prabowo Resmikan Kantor DPD Gerindra di Banten

0
Lomba 17 Agustus Bergeser ke Esports, Tradisi Beradaptasi di Era Digital

Lomba 17 Agustus Bergeser ke Esports, Tradisi Beradaptasi di Era Digital

9 Agustus 2026
Jalan Sehat Warga Pontianak Selatan Sambil Pungut Sampah

Jalan Sehat Warga Pontianak Selatan Sambil Pungut Sampah

9 Agustus 2026
Pontianak Raih Juara III MTQ Kalbar, Bersiap Jadi Tuan Rumah Tahun Depan

Pontianak Raih Juara III MTQ Kalbar, Bersiap Jadi Tuan Rumah Tahun Depan

9 Agustus 2026
HYROX Jadi Tren Baru Anak Muda Urban, Olahraga Intens Dipadukan dengan Pemulihan

HYROX Jadi Tren Baru Anak Muda Urban, Olahraga Intens Dipadukan dengan Pemulihan

8 Agustus 2026

Recent News

Lomba 17 Agustus Bergeser ke Esports, Tradisi Beradaptasi di Era Digital

Lomba 17 Agustus Bergeser ke Esports, Tradisi Beradaptasi di Era Digital

9 Agustus 2026
Jalan Sehat Warga Pontianak Selatan Sambil Pungut Sampah

Jalan Sehat Warga Pontianak Selatan Sambil Pungut Sampah

9 Agustus 2026
Pontianak Raih Juara III MTQ Kalbar, Bersiap Jadi Tuan Rumah Tahun Depan

Pontianak Raih Juara III MTQ Kalbar, Bersiap Jadi Tuan Rumah Tahun Depan

9 Agustus 2026
HYROX Jadi Tren Baru Anak Muda Urban, Olahraga Intens Dipadukan dengan Pemulihan

HYROX Jadi Tren Baru Anak Muda Urban, Olahraga Intens Dipadukan dengan Pemulihan

8 Agustus 2026
  • Kode Etik
  • Kode Prilaku Perusahaan Pers
  • Tentang Kami
  • Redaksi

© 2026 triggernetmedia development

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Sospolhukam
    • Metropolitan
    • Nasional
    • Internasional
  • Kalbar
    • Pontianak
    • Kayong Utara
    • Ketapang
    • Kubu Raya
    • Kapuas Raya
    • Landak
    • Mempawah
    • Sanggau
    • SingBeBas
    • Kapuas Hulu
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Bisnis
    • Industri
    • Makro
    • IHSG
    • Fintech
  • Edutaiment
    • Literasi
    • Edukasi
    • Budaya
    • Gadgets
    • IT
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Kabar Arena
    • Otomotif
  • Infotainment
    • Selebritis
    • Film
    • Music
    • Zodiak
    • Comunity
    • Kekinian
    • Fashion
    • Milenial
  • Kuliner
    • Food
    • Pesona Dunia
    • Pesona Nusantara
  • Pariwara
    • Videotron
    • Foto
    • Kanal Iklan

© 2026 triggernetmedia development