triggernetmedia.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak memberikan dampak besar terhadap pembayaran utang pemerintah maupun subsidi energi.
Menurut Purbaya, sebagian utang luar negeri pemerintah dibayar menggunakan sumber pendanaan dalam mata uang dolar sehingga terdapat mekanisme lindung nilai alami atau natural hedge.
“Biasanya kita bayar pakai utang juga sebagian. Jadi dolar ke dolarnya sama, natural hedge, tidak ada beban tambahan ke kita,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2026, Senin, 8 Juni 2026.
Ia menjelaskan pemerintah juga menerbitkan obligasi global berdenominasi dolar AS yang hasilnya dapat digunakan untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang luar negeri.
Karena itu, menurut dia, pelemahan rupiah tidak secara otomatis meningkatkan beban pembayaran bunga maupun pokok utang pemerintah.
“Tahun ini kita terbitkan juga government bond global yang income-nya dolar. Harusnya disesuaikan dengan pembayaran utang,” ujarnya.
Purbaya juga menanggapi potensi kenaikan beban subsidi energi akibat pelemahan rupiah. Ia mengakui nilai tukar rupiah mengalami tekanan yang cukup besar, namun pemerintah telah memperhitungkan faktor tersebut dalam simulasi pengelolaan APBN.
Menurut dia, asumsi nilai tukar yang digunakan dalam perhitungan fiskal pemerintah berada di atas asumsi makro APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS.
Meski demikian, ia tidak merinci angka yang digunakan dalam simulasi tersebut.
“Saya tidak harus mengubah simulasi APBN. Yang saya umumkan waktu itu sudah memasukkan faktor-faktor itu,” kata Purbaya.
Pada perdagangan Senin pagi, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp18.110 per dolar AS atau melemah 104 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.



