triggernetmedia.com – Fenomena El Nino dengan intensitas kuat atau yang kerap disebut “Godzilla El Nino” berpotensi mengancam ketahanan pangan nasional. Dampak paling besar diperkirakan terjadi pada sektor pertanian, khususnya komoditas padi dan jagung yang sangat bergantung pada ketersediaan air.
Guru Besar Agroklimatologi UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho, menjelaskan bahwa El Nino merupakan siklus iklim alami. Namun, perubahan iklim global membuat pola kemunculannya menjadi semakin dinamis dan sulit diprediksi.
“El Nino itu sebenarnya siklus alami, sudah lama terjadi, tetapi sekarang polanya terasa makin cepat karena pemanasan global. Kalau intensitasnya sangat kuat, dampaknya pasti terasa ke pertanian, terutama dari sisi produksi,” ujar Bayu, Jumat (3/4/2026).
Menurut dia, berkurangnya suplai air menjadi faktor utama yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman pangan. Padi dan jagung menjadi komoditas yang paling rentan terhadap kekeringan ekstrem.
“Kalau airnya kurang, pertumbuhannya terganggu, bahkan bisa berujung gagal panen,” katanya.
Kondisi tersebut tidak hanya berisiko terhadap ketersediaan pangan, tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan petani. Gagal panen setelah masa tanam dapat menyebabkan kerugian finansial yang signifikan.
“Biaya yang sudah dikeluarkan petani tidak kembali jika terjadi gagal panen,” ujarnya.
Bayu menekankan pentingnya langkah mitigasi untuk menekan risiko tersebut. Salah satunya melalui penguatan komunikasi antara petani dan penyuluh pertanian agar keputusan budidaya dapat dilakukan secara tepat.
Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti varietas tahan kekeringan dan sistem irigasi hemat air juga dinilai penting.
Ia juga mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk peran pemerintah dan perguruan tinggi dalam menyediakan data iklim yang akurat serta inovasi di bidang pertanian.
“BMKG perlu memberikan peringatan dini hingga level desa, sementara perguruan tinggi harus terus menghasilkan inovasi varietas tahan kekeringan,” kata Bayu.

