triggernetmedia.com – Aula kediaman dinas Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono siang itu tak sekadar menjadi tempat jamuan Lebaran. Sejak pukul 12.00 WIB, arus tamu terus mengalir dari pejabat hingga warga biasa dalam open house Idulfitri 1447 Hijriah.
Di satu sisi, suasana terasa cair, jabat tangan, senyum, dan obrolan ringan di antara hidangan khas Lebaran. Namun di sisi lain, pertemuan itu juga memperlihatkan ruang perjumpaan yang jarang terjadi antara penguasa dan warga dalam situasi tanpa sekat formal.
Nama-nama penting tampak hadir ada Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus, Bupati Kubu Raya Sujiwo, hingga anggota DPR RI Lasarus. Kehadiran mereka menegaskan bahwa open house bukan sekadar tradisi, tetapi juga ajang konsolidasi sosial bahkan politik dalam balutan hari raya.
Edi, didampingi istri dan keluarga, menyambut tamu satu per satu. Ritual saling memaafkan berlangsung hangat, meski maknanya bisa berlapis antara tradisi keagamaan, etika sosial, hingga simbol keterbukaan kekuasaan.
“Momentum Idulfitri ini untuk mempererat silaturahmi dan persaudaraan,” kata Edi.
Ia menyebut open house sebagai ruang untuk mendengar aspirasi warga. Dalam praktiknya, momen seperti ini memang memberi celah bagi masyarakat untuk menyampaikan harapan meski dalam format yang singkat dan informal.
Di tengah suasana santai, warga seperti Sulaiman (53) merasakan manfaatnya. Ia mengaku lebih leluasa bertemu langsung dengan pemimpinnya.
Namun, pertanyaannya tetap terbuka: sejauh mana ruang-ruang informal seperti ini mampu benar-benar menjembatani aspirasi warga ke dalam kebijakan?
Open house, pada akhirnya, bukan sekadar tradisi Lebaran. Ia adalah panggung kecil tempat relasi antara pemerintah dan masyarakat dipertontonkan hangat, akrab, namun tetap menyisakan jarak yang tak sepenuhnya hilang.

