triggernetmedia.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memperkuat koordinasi dengan distributor bahan pokok untuk menjaga stabilitas pasokan pangan dan energi menjelang Idulfitri.
Langkah tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Ketersediaan Bahan Pokok dan Bahan Penting yang dibuka Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, Harisson, di Kantor Gubernur Kalbar, Rabu (11/3/2026).
Harisson mengatakan stabilitas harga pangan membutuhkan kerja sama antara pemerintah dan pelaku usaha dalam rantai distribusi.
“Pengendalian harga pangan membutuhkan koordinasi yang kuat. Kami memerlukan masukan dari distributor mengenai kondisi distribusi bahan pokok di daerah,” ujarnya.
Ia menambahkan sebagian besar pasokan bahan pokok ke Kalimantan Barat masih bergantung pada transportasi laut. Karena itu gangguan distribusi berpotensi memengaruhi ketersediaan dan harga komoditas di masyarakat.
Dinas Ketahanan Pangan Kalbar menyebutkan ketersediaan beras di daerah tersebut masih dalam kondisi aman. Namun beberapa komoditas seperti kedelai, tepung terigu, dan bahan pakan ternak masih menghadapi kendala distribusi.
Perwakilan distributor kedelai dari Kapuas Lestari, Eko, mengatakan pasokan kedelai mengalami keterlambatan sejak Desember akibat penundaan pengiriman kapal dari jalur transit internasional.
“Stok yang tersedia saat ini sangat terbatas, bahkan hanya cukup untuk satu hingga dua hari penjualan,” kata Eko.
Selain pangan, rapat juga membahas ketersediaan energi. Pihak Pertamina memastikan stok BBM dan LPG di Kalimantan Barat masih aman.
Untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi menjelang hari besar keagamaan, Pertamina menyiapkan tambahan sekitar 500 ribu tabung LPG serta mengoperasikan sejumlah SPBU strategis selama 24 jam.
Kepala Biro Perekonomian Setda Kalbar, Harry Ronaldi Mahaputrawan, mengingatkan pemerintah daerah perlu mewaspadai tantangan global yang berpotensi memengaruhi stabilitas pangan pada 2026–2027.
Menurutnya, kondisi geopolitik global dapat memengaruhi jalur perdagangan internasional, terutama di kawasan Selat Hormuz dan Laut Hitam yang menjadi jalur distribusi energi dan pangan dunia.
Selain itu, berdasarkan informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, fenomena El Nino diperkirakan terjadi mulai Juni 2026 hingga Juli 2027 yang berpotensi memicu musim kemarau lebih panjang.











