triggernetmedia.com – Konflik militer antara koalisi Amerika Serikat–Israel dan Iran yang telah berlangsung sekitar sepekan mulai memicu guncangan serius pada perekonomian global. Konflik ini tidak hanya memicu ketegangan geopolitik, tetapi juga mengganggu operasi energi, logistik, hingga pasokan bahan baku industri di berbagai negara.
Salah satu dampak paling signifikan berasal dari terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia. Penutupan jalur tersebut menyebabkan distribusi minyak mentah dan gas alam terganggu, sehingga memicu kekhawatiran terhadap ketahanan energi global.
Akibat gangguan tersebut, sekitar 140 juta barel minyak atau setara 1,4 hari kebutuhan minyak dunia tertahan. Fasilitas penyimpanan di kawasan Teluk pun mulai penuh sehingga beberapa negara produsen, seperti Irak, terpaksa memangkas produksi.
Harga minyak dunia merespons dengan kenaikan tajam. Sepanjang pekan ini, harga minyak melonjak sekitar 24 persen hingga menembus level 90 dollar AS per barel.
Kepala Ekonom Pasar Negara Berkembang di Capital Economics, William Jackson, memperingatkan harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi jika konflik berlanjut.
“Jika konflik berkepanjangan dan memengaruhi pasokan minyak secara nyata, termasuk jika Iran memblokir Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak hingga sekitar 100 dollar AS per barel,” ujarnya dalam catatan kepada klien.
Analis dari JP Morgan juga menilai dinamika pasar energi telah berubah secara signifikan. Menurut mereka, pasar kini tidak lagi sekadar memperhitungkan risiko geopolitik, tetapi telah menghadapi gangguan operasional nyata akibat penutupan kilang serta pembatasan ekspor energi di kawasan.
Krisis energi semakin diperparah setelah Qatar menyatakan kondisi force majeure terhadap ekspor gasnya menyusul serangan drone. Padahal negara tersebut memasok sekitar 20 persen kebutuhan gas alam cair dunia.
Dampak konflik juga terasa di sektor transportasi udara. Penutupan wilayah udara di Timur Tengah mengganggu aktivitas dua hub penerbangan internasional utama, yakni Bandara Dubai dan Doha. Tercatat sekitar 40.000 penerbangan dibatalkan sehingga memicu gangguan besar pada mobilitas global.
Harga avtur pun melonjak hingga dua kali lipat sejak konflik pecah. Maskapai penerbangan terpaksa memutar rute penerbangan dan menaikkan harga tiket, terutama pada jalur Asia–Eropa.
Sementara itu di dalam negeri, dampak konflik mulai menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama menjelang perayaan Idulfitri. Sejumlah warga mulai menahan pengeluaran karena khawatir terjadi lonjakan harga kebutuhan pokok.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memastikan stok bahan bakar minyak, minyak mentah, dan LPG masih aman untuk beberapa pekan ke depan.
Untuk mengantisipasi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah, pemerintah juga menyiapkan opsi pengalihan impor minyak dari kawasan tersebut ke negara lain, termasuk Amerika Serikat.
Para pengamat ekonomi mendorong pemerintah menyiapkan langkah antisipatif, termasuk menyiapkan skenario darurat fiskal apabila dampak konflik global semakin meluas.




