triggernetmedia.com – World Health Organization (WHO) melaporkan sedikitnya 13 rumah sakit di Iran hancur akibat konflik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat sejak 28 Februari 2026.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan keprihatinan mendalam atas serangan terhadap fasilitas kesehatan yang seharusnya menjadi zona aman dalam konflik bersenjata.
Dalam konferensi pers darurat pada Kamis waktu setempat, Tedros mengatakan WHO sedang memverifikasi laporan mengenai empat tenaga medis yang tewas serta 25 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
“Di bawah hukum humaniter internasional, layanan kesehatan harus dilindungi dan tidak boleh diserang,” kata Tedros.
Data sementara menunjukkan konflik tersebut telah menewaskan sedikitnya 1.230 orang di Iran, lebih dari 100 orang di Lebanon, serta 13 orang di Israel. Selain itu, enam tentara Amerika Serikat juga dilaporkan tewas dalam rangkaian konflik tersebut.
Salah satu insiden paling mematikan terjadi di Minab, Iran selatan, ketika sebuah serangan udara menghantam sekolah Shajareh Tayyebeh dan menewaskan puluhan siswa.
Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur, Hanan Balkhy, menyatakan bahwa kerusakan sistem kesehatan di Iran juga mencakup empat ambulans yang hancur serta sejumlah fasilitas medis yang mengalami kerusakan akibat ledakan di sekitar lokasi.
Situasi serupa juga terjadi di Lebanon, di mana sejumlah rumah sakit dan klinik terpaksa ditutup setelah adanya perintah evakuasi.
WHO juga melaporkan dampak konflik tersebut terhadap operasi global mereka. Pusat logistik darurat WHO di Dubai, Uni Emirat Arab, terpaksa menghentikan operasional sementara karena ketidakamanan dan penutupan ruang udara di kawasan tersebut.
Pusat logistik tersebut merupakan fasilitas penting bagi distribusi bantuan kesehatan global. Tahun lalu, pusat ini memproses lebih dari 500 pengiriman bantuan darurat untuk 75 negara.
Akibat gangguan tersebut, bantuan kesehatan kemanusiaan senilai sekitar 18 juta dolar AS tertahan, sementara pengiriman senilai 8 juta dolar AS lainnya tidak dapat mencapai pusat logistik tersebut.











