triggernetmedia.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut Ramadan 1447 Hijriah sebagai momentum penting untuk memperkuat kesalehan sosial dan membangun kehidupan yang tidak eksploitatif, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap alam.
Menurut Nasaruddin, makna Ramadan tidak berhenti pada ibadah individual. Puasa, kata dia, harus berdampak pada penguatan solidaritas sosial dan harmoni kebangsaan. Ia menilai pengendalian diri yang dilatih selama Ramadan menjadi kunci membangun kehidupan yang adil dan berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa puasa mengajarkan kesadaran hidup secara seimbang, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Kesadaran tersebut, menurutnya, penting agar masyarakat tidak terjebak pada pola hidup konsumtif dan eksploitatif.
Nasaruddin juga menyinggung potensi perbedaan dalam penetapan awal Ramadan. Ia meminta masyarakat menyikapinya dengan dewasa dan tidak menjadikannya sebagai sumber perpecahan. Perbedaan, kata dia, justru menjadi ruang untuk memperkuat toleransi dan persaudaraan.
Selain itu, ia mengajak umat Islam meningkatkan solidaritas sosial selama bulan suci, meneladani Rasulullah SAW yang dikenal dermawan, khususnya pada Ramadan. Menag berharap nilai-nilai Ramadan dapat melahirkan kebaikan nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.




