triggernetmedia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pembekuan perdagangan (trading halt) selama dua hari berturut-turut setelah mencatatkan penurunan tajam sejak Rabu (28/1/2026). Otoritas bursa menghentikan sementara perdagangan setelah indeks turun lebih dari batas yang ditetapkan.
Pada Rabu, IHSG ditutup melemah sekitar 8 persen di level 7.600-an. Tekanan berlanjut pada Kamis (29/1/2026) saat indeks kembali terkoreksi hingga 10 persen pada awal perdagangan dan menyentuh level 7.481, sehingga Bursa Efek Indonesia kembali melakukan trading halt.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan IHSG lebih dipengaruhi sentimen teknikal global, khususnya isu reklasifikasi Indonesia dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Ini lebih kepada shock pasar karena isu indeks MSCI, bukan karena fundamental ekonomi kita melemah,” kata Purbaya saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Kamis.
Ia tetap optimistis terhadap prospek pasar modal Indonesia dan menilai IHSG masih berpeluang mencapai level 10.000 pada akhir 2026. Menurutnya, pemerintah akan terus menjaga stabilitas fiskal dan iklim investasi.
Namun, sejumlah lembaga keuangan global menilai risiko tetap perlu diwaspadai. Goldman Sachs memperkirakan potensi arus keluar dana pasif bisa mencapai 7,8 miliar dollar AS apabila Indonesia direklasifikasi dari emerging market menjadi frontier market dalam indeks MSCI.
UBS juga menyebut ketidakpastian akan berlanjut hingga terdapat kejelasan kebijakan yang menjawab kekhawatiran MSCI, terutama terkait aspek kelayakan investasi (investability).
Pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia tengah memantau perkembangan pasar dan menyiapkan langkah stabilisasi guna menjaga kepercayaan investor.




