triggernetmedia.com – Siang yang semestinya diisi film keluarga di rumah Ari Kurniansyah berubah menjadi sesi menunggu tanpa kepastian. Layar televisi membeku, digantikan ikon pemutar yang berputar tanpa henti. Di media sosial, keluhan serupa mengalir deras. Tagar #IndihomeGangguan melesat ke puncak percakapan publik.
Gangguan massal pada Kamis (22/1/2026) itu menjadi pengingat bahwa stabilitas koneksi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi IndiHome, meski perusahaan induknya, Telkomsel, tengah berpesta dalam laporan keuangan.
Dalam kuartal III 2025, laba Telkomsel melonjak 11,5 persen menjadi Rp4,71 triliun. Jumlah pelanggan IndiHome menembus 11,5 juta rumah, sementara ARPU ikut terkerek naik. Angka-angka itu menegaskan satu hal: bisnis berjalan sangat sehat.
Namun, kesehatan finansial tak selalu sejalan dengan pengalaman pelanggan. Ketika jutaan pengguna baru masuk ke jaringan, kapasitas infrastruktur di banyak titik justru tertinggal. Ibarat jalan tol tanpa pelebaran lajur, kepadatan lalu lintas tak terhindarkan.
Telkomsel mengakui adanya penurunan kualitas layanan dan menyebut telah melakukan pemulihan jaringan secara nasional. Gangguan, menurut perusahaan, dipicu oleh kombinasi faktor teknis dan eksternal, termasuk pekerjaan pemeliharaan dan aktivitas konstruksi pihak ketiga.
Persoalan yang lebih mendasar, kata sejumlah pengamat, terletak pada ketergantungan pada infrastruktur lama yang belum sepenuhnya diremajakan. Di sisi lain, ekspansi pelanggan yang agresif menambah beban pada titik distribusi jaringan di kawasan padat penduduk.
Posisi konsumen pun kian lemah. Di banyak perumahan, IndiHome menjadi satu-satunya pilihan layanan broadband tetap. Ketika koneksi terganggu, pelanggan tak punya banyak alternatif selain menunggu.
Keluhan soal minimnya kompensasi dan lambannya perbaikan kerap muncul setiap kali gangguan massal terjadi. Media sosial menjadi ruang pelampiasan, sekaligus cermin ketidakpuasan yang berulang.
Di tengah target besar transformasi digital nasional, ironi ini terasa makin kontras: perusahaan mencetak laba triliunan rupiah, sementara publik masih bergulat dengan kebutuhan paling dasar di era digital—koneksi yang stabil dan bisa diandalkan.

