triggernetmedia.com – Amerika Serikat melakukan operasi militer di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam operasi yang dilaksanakan pada 3 Januari 2026. Operasi itu disebut “Operation Absolute Resolve” dan melibatkan serangan udara serta pasukan khusus di Caracas, sebelum keduanya dibawa ke Amerika Serikat untuk menghadapi dakwaan terkait narkoterrorisme dan perdagangan narkoba.
Operasi tersebut memicu kecaman internasional karena dinilai sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan kedaulatan Venezuela. Para ahli hukum menyatakan penggunaan kekuatan oleh AS tidak memiliki dasar jelas dalam hukum internasional karena tidak ada mandat Dewan Keamanan PBB maupun persetujuan eksplisit dari Kongres AS.
Akibat serangan itu, puluhan personel keamanan Venezuela serta puluhan tentara dan petugas keamanan dari Kuba meninggal dunia, yang kemudian memicu pemberlakuan masa berkabung di kedua negara. Pemerintah Venezuela menyebut tindakan tersebut sebagai tindakan kriminal dan pelanggaran kedaulatan.
Setelah penangkapan Maduro, Wakil Presiden Delcy Rodríguez diambil sumpah sebagai presiden interim oleh Mahkamah Agung Venezuela, dan mengumumkan masa berkabung nasional selama tujuh hari.
Pemerintahan AS menyatakan operasi tersebut merupakan bagian dari upaya menegakkan hukum terhadap dugaan jaringan narkotrafik dan terorisme, serta bagian dari strategi keamanan nasional. Namun, banyak negara dan organisasi internasional mengecam langkah itu sebagai bentuk intervensi militer yang tidak sah dan berpotensi memperburuk ketegangan di kawasan Amerika Latin.

