triggernetmedia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan awal pekan ini dengan penguatan. Pada sesi pembukaan Senin, 20 Oktober 2025, IHSG naik 0,92 persen ke level 7.988, menandai sinyal rebound teknikal setelah tekanan jual di akhir pekan sebelumnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.05 WIB, IHSG masih bertahan di zona hijau. Tercatat 2,28 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi Rp1,59 triliun dari 168.400 kali transaksi. Sebanyak 343 saham menguat, 175 melemah, dan 438 stagnan.
BBCA dan BRPT Pimpin Kenaikan
Beberapa saham unggulan mencatatkan kenaikan signifikan sejak awal perdagangan. Di antaranya BBCA, BLUE, BRPT, CBDK, CLAY, COIN, DSSA, DWGL, EDGE, MBSS, MTMH, dan PACK.
Sementara itu, saham-saham seperti AMMN, ANTM, BBSI, BRAM, CITA, dan INDY masih berada di zona merah.
Potensi Rebound ke 8.000
Menurut laporan riset Sapa Mentari BRI Danareksa Sekuritas, IHSG berpotensi technical rebound setelah sempat turun 2,57 persen ke level 7.915 pada penutupan pekan lalu. Analis menilai, indeks tengah menguji area support kuat di 7.877 dengan potensi kembali menembus level psikologis 8.000.
“Secara teknikal, IHSG menguji support 7.877 dengan peluang technical rebound ke 8.000,” tulis tim riset BRI Danareksa, Senin (20/10/2025).
Meski tekanan jual masih meluas, investor asing mencatatkan net buy Rp3,04 triliun, menjadi salah satu katalis positif bagi pergerakan indeks di awal pekan.
Sentimen Global Masih Membayangi
Kinerja positif IHSG turut mengikuti penguatan bursa global. Akhir pekan lalu, Dow Jones naik 0,52 persen ke 46.190,61, S&P 500 menguat 0,53 persen ke 6.664,01, dan Nasdaq menambah 0,52 persen ke 22.679,98.
Namun, pelaku pasar tetap mencermati berbagai risiko eksternal seperti ketegangan perdagangan AS–China, risiko kredit perbankan di AS, serta ancaman government shutdown di Washington.
Kondisi ini dinilai masih bisa mempengaruhi arus modal asing dan volatilitas jangka pendek di pasar saham domestik.
Strategi Investor
Dengan kondisi pasar yang fluktuatif, analis merekomendasikan investor untuk fokus pada saham-saham berfundamental kuat di sektor perbankan, infrastruktur, dan konsumsi.
Saham big cap seperti BBCA, BMRI, dan TLKM dinilai masih memiliki ruang kenaikan moderat seiring stabilnya kurs rupiah dan arus masuk dana asing.











