triggernetmedia.com – Partai NasDem mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach. Pengumuman tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai NasDem, Hermawi Taslim, dalam siaran pers resmi pada Minggu (31/8/2025).
Kabar penonaktifan itu juga dipublikasikan lewat akun Instagram resmi partai, @official_nasdem. Namun, keputusan tersebut memicu perdebatan di kalangan publik. Banyak warganet menilai istilah dinonaktifkan masih menimbulkan tanda tanya, lantaran berbeda dengan status dipecat.
Seorang warganet bernama @ilhdra bahkan mencoba memberi penjelasan detail mengenai perbedaan keduanya. Ia menyebutkan bahwa menonaktifkan biasanya hanya berlaku di lingkup internal partai, sementara kursi DPR yang diperoleh lewat Pemilu tidak serta-merta hilang kecuali melalui mekanisme Pergantian Antar Waktu (PAW).
“Menonaktifkan = tidak lagi aktif di struktur partai, tapi masih anggota DPR.
Pemecatan baru terjadi kalau partai mengusulkan PAW ke KPU dan DPR,” tulisnya.
Meski begitu, penjelasan tersebut tidak meredam sindiran warganet lainnya. Banyak yang justru melontarkan kritik bernada satir.
“PECAT dong Pak, bukan DINONAKTIFKAN. HP saya tiap malam juga saya nonaktifkan, paginya nyala lagi,” komentar akun @fadla*****.
“Kalau cuma nonaktif, artinya masih bisa diaktifkan lagi. Jadi percuma,” tulis @hrdnt*****.
“PECAT!!! Jangan setengah hati,” tambah @diraa*****.
“Pecat langsung aja, jangan pakai istilah ribet,” sahut @lidya*****.
Keputusan NasDem ini akhirnya bukan hanya menjadi isu politik internal, tetapi juga ramai dibahas di media sosial. Publik menilai partai perlu memberikan kejelasan lebih tegas agar tidak menimbulkan persepsi seolah penonaktifan hanya bersifat sementara.
