triggernetmedia.com – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, Hasto Wardoyo, memberikan apresiasi kepada Kota Pontianak karena berhasil menurunkan angka stunting secara signifikan.
Dalam sebuah rapat koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting yang diadakan di Hotel Harris Pontianak pada tanggal 9 September, Hasto Wardoyo menyatakan bahwa Kota Pontianak telah berhasil menurunkan angka stunting dari 24,4 persen pada tahun 2021 menjadi 19,7 persen pada tahun 2022.
“Kota Pontianak ini luar biasa karena sekarang sudah mencapai 19 persen, dan Pak Wali Kota optimis akhir tahun ini mendekati angka 14 persen. Akhir tahun 2024 diharapkan bisa lebih rendah lagi sehingga Pontianak bisa menjadi best practice atau percontohan bagi daerah lainnya,” ujar Hasto Wardoyo usai rapat koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting Kota Pontianak di Hotel Harris Pontianak, Sabtu (9/9).
Lebih lanjut, Hasto Wardoyo menyebutkan bahwa pihaknya ingin mendorong Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) untuk menurunkan angka stunting menjadi 20 persen. Saat ini, angka stunting di Kalbar masih berada pada 27 persen berdasarkan data tahun 2022.
“Kita lihat nanti di akhir 2023 ini, harapan saya mendekati 20 persen dari 27 persen atau bahkan lebih rendah. Makanya kita dorong betul agar Kalbar harus di bawah 20 persen,” ucapnya.
Hasto Wardoyo juga menekankan pentingnya pencegahan stunting dengan melibatkan calon pengantin dan ibu-ibu hamil. Ia mencatat bahwa hampir 80 persen kehamilan terjadi dalam tahun pertama pernikahan, sehingga perhatian terhadap asupan gizi selama kehamilan menjadi kunci dalam mencegah stunting.
“Stunting perlu menjadi perhatian semua pihak. Jika strateginya tidak cerdas, maka akan kedodoran, dan stunting baru akan terus muncul karena hanya memperhatikan kasus paparan stunting, namun yang belum lahir tidak dipikirkan. Saya berharap kalau bisa mencegah lahirnya stunting baru,” tambahnya.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, juga berkomitmen untuk terus menurunkan angka stunting di Kota Pontianak. Upaya percepatan penurunan stunting dilakukan melalui pencegahan dengan melakukan koordinasi antara berbagai pihak dan melibatkan seluruh stakeholder yang ada.
“Target kita di tahun 2023 ini adalah angka stunting di bawah 14 persen,” ujar Edi.
Edi menekankan bahwa penanganan stunting dimulai dari ibu hamil, karena stunting dapat terjadi ketika janin masih dalam kandungan akibat kurangnya asupan gizi yang memadai.
Namun, ia mengakui bahwa masih ada tantangan, di mana calon pengantin dan ibu hamil masih enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, perlu upaya serius dari semua pihak untuk mencegah stunting sejak dini.
“Mudah-mudahan koordinasi antara Pemkot Pontianak dengan BKKBN bisa terus ditingkatkan karena Pontianak sebagai barometer Provinsi Kalimantan Barat. Zero stunting Kota Pontianak akan berdampak pada kondisi nilai stunting di Kalbar,” kata Edi.



