Kamis, 23 April 2026
Trigger Netmedia
  • Home
  • Kalbar
    • Pontianak
    • Kayong Utara
    • Ketapang
    • Kubu Raya
    • Kapuas Raya
    • Landak
    • Mempawah
    • Sanggau
    • SingBeBas
    • Kapuas Hulu
  • News
    • Peristiwa
    • Sospolhukam
    • Metropolitan
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Bisnis
    • Industri
    • Makro
    • IHSG
    • Fintech
  • Edutaiment
    • Literasi
    • Edukasi
    • Budaya
    • Gadgets
    • IT
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Kabar Arena
    • Otomotif
  • Lifestyle
    • Comunity
    • Kekinian
    • Fashion
    • Milenial
  • Infotainment
    • Selebritis
    • Film
    • Music
    • Zodiak
  • Kuliner
    • Food
    • Pesona Dunia
    • Pesona Nusantara
  • Pariwara
    • Videotron
    • Foto
    • Kanal Iklan
No Result
View All Result
Trigger Netmedia
Home Headline

WNI di India Ungkap Delhi Diselimuti Kabut Asap

TriggerNetMedia by TriggerNetMedia
20 November 2021
in Headline, Internasional, News, Sorotan
0
1.2k
VIEWS
Share on Facebook

triggernetmedia.com – Kualitas udara yang kian memburuk di ibu kota India, Delhi, membuat beberapa orang khawatir keluar rumah. Namun sebagian besar warga setempat sudah menganggap hal itu sebagai masalah biasa, menurut seorang warga negara Indonesia yang tinggal di sana.

Mohamad Agoes Aufiya, 32 tahun, yang tinggal di Munirka, Delhi Selatan, mengatakan kota itu diselimuti kabut asap dengan jarak pandang sekitar satu kilometer.

Related posts

Korupsi Migas Rp285 Triliun, Eks Bos PPN Dituntut 14 Tahun

Korupsi Migas Rp285 Triliun, Eks Bos PPN Dituntut 14 Tahun

23 April 2026
Cegah Stunting Sejak Dini, Deteksi Preeklamsia Jadi Kunci

Cegah Stunting Sejak Dini, Deteksi Preeklamsia Jadi Kunci

23 April 2026

“Saya lihat aktivitas warga sedikit menurun karena ada beberapa kegiatan yang diminta pemerintah untuk tidak dilakukan demi mengurangi polusi,” kata Agoes melansir suara.com, Sabtu (20/11).

Pihak berwenang di Delhi telah menutup semua sekolah dan perguruan tinggi sampai batas waktu yang belum ditentukan akibat polusi udara.

Pekerjaan konstruksi juga dilarang hingga 21 November kecuali untuk proyek-proyek transportasi dan terkait pertahanan.

Hanya lima dari 11 pembangkit listrik berbasis batu bara di kota itu yang diizinkan untuk beroperasi.

Kabut asap beracun telah mencekik Delhi sejak Festival Diwali, awal November lalu.

Level PM2.5 – partikel kecil yang dapat menyumbat paru-paru – di Delhi jauh lebih tinggi dari pedoman keselamatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pada Selasa (16/11) lalu, beberapa daerah di kota tersebut mencatat angka mendekati atau lebih tinggi dari 400, yang dikategorikan “parah”.

Angka antara nol dan 50 dianggap “baik”, dan antara 51 dan 100 “memuaskan”, menurut indeks kualitas udara atau AQI.

Beberapa sekolah sudah ditutup sejak pekan lalu karena polusi. Bahkan, pemerintah mengatakan sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan lockdown untuk meningkatkan kualitas udara seiring awan tebal kabut asap menutupi seluruh kota.

Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI New Delhi, Hanafi, mengatakan pihaknya telah mengimbau para WNI di Delhi untuk mengurangi aktivitas di luar rumah serta bekerja dari rumah demi mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Saat ini terdapat 122 WNI di kota tersebut.

“WNI di Delhi sendiri juga sudah memahami hal ini sehingga umumnya lebih memilih berada di dalam rumah yang biasa dilengkapi air purifier dan menggunakan masker saat sedang berada di luar rumah,” kata Hanafi lewat pesan singkat kepada BBC News Indonesia.

Apa penyebab polusi udara di Delhi?

Campuran berbagai faktor seperti emisi kendaraan dan industri, debu, serta pola cuaca membuat Delhi menjadi ibu kota paling tercemar di dunia.

Udara terutama menjadi beracun dalam bulan-bulan musim dingin karena petani di negara-negara bagian tetangga membakar tunggul tanaman.

Praktik ini sudah dilarang pada 2015 – tetapi penegakannya lemah.

Kemudian kembang api selama Festival Diwali memperburuk kualitas udara.

Beberapa negara bagian telah melarang penjualan dan penggunaan kembang api selama perayaan Diwali, tetapi penerapan larangan itu lemah di banyak negara bagian.

Sebuah studi tahun 2018 mendapati ada efek “kecil namun signifikan secara statistik” dari kembang api saat perayaan Diwali.

Sebuah laporan oleh Pusat Sains dan Lingkungan, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Delhi, menunjukkan bahwa konsentrasi PM2.5 meningkat selama Diwali pada 2018, 2019 dan 2020 di ibu kota.

Tidak semua kembang api menghasilkan banyak partikel PM2.5, namun kembang api mengandung berbagai zat beracun lainnya, termasuk logam berat. Dewan Pengendalian Polusi Pusat pemerintah sendiri mencantumkan 15 zat dalam kembang api yang katanya “berbahaya dan beracun”.

Namun, ada sangat sedikit penelitian yang mengkuantifikasi secara pasti kontribusi yang kembang api terhadap kualitas udara yang buruk pada periode ini.

‘Masalah tahunan’

Agoes, yang tinggal di Delhi sejak 2013 guna menempuh studi di Universitas Jawaharlal Nehru, mengatakan warga Delhi menganggap kabut asap ini sebagai masalah tahunan.

“Sudah biasa seperti ini, jadi masalah ini masih terus ada sejak saya datang di sini. Biasanya terjadi di musim dingin,” ujarnya.

Pria yang juga memiliki channel YouTube itu mengatakan kabut asap telah membuat ia dan keluarganya khawatir keluar rumah. Namun mereka tetap melakukannya pada sore hari dengan menggunakan masker N95.

“Rasa khawatir itu ada… jadi kita hanya keluar rumah pada saat memang diperlukan saja,” kata Agoes.

Agoes yang berasal dari Martapura, Kalimantan Selatan, mengatakan kabut asap di Delhi mengingatkannya pada peristiwa serupa di kampung halamannya beberapa tahun yang lalu. Namun, menurutnya, kabut asap di Delhi ini lebih parah.

“Kalau saya merasakan antara kota Martapura, tidak separah di kota New Delhi ini dari sisi waktu lamanya dan dari sisi jarak pandangnya saya pikir masih mending,” ungkapnya.

Tahun ini, polusi menjadi begitu parah sehingga Mahkamah Agung India mengeluarkan peringatan keras, yang memerintahkan pemerintah negara bagian dan federal mengambil langkah-langkah “segera dan darurat” untuk mengatasi masalah tersebut.

Menyusul sidang di Mahkamah Agung, Komisi Manajemen Kualitas Udara Delhi mengadakan sebuah pertemuan dan langkah-langkah darurat diumumkan.

Langkah-langkah lain yang diumumkan oleh panel tersebut mencakup larangan masuk bagi truk ke Delhi dan negara-negara bagian tetangga Uttar Pradesh, Punjab, Haryana, dan Rajasthan hingga 21 November, kecuali yang membawa komoditas esensial.

Panel juga mengarahkan Delhi dan negara-negara lain untuk “mendorong” kantor swasta untuk membolehkan 50% karyawan mereka bekerja dari rumah selama periode tersebut demi mengurangi emisi kendaraan dan tingkat debu.

Bagaimanapun wartawan BBC News di Delhi, Geeta Pandey menyebut langkah-langkah ini “seperti meletakkan perban di lubang peluru”.

“Mereka telah dicoba di masa lalu dan telah membuat banyak perubahan pada udara kota dalam jangka panjang,” ujarnya.

Para pakar mengatakan bahwa untuk membersihkan udara diperlukan langkah-langkah drastis yang bukan prioritas bagi para pemimpin negara, imbuhnya, dan ada kemungkinan pada awal musim dingin tahun depan situasi yang sama akan terjadi lagi.

Masalah polusi di India tidak hanya terbatas pada Delhi.

Kota-kota di India secara rutin mendominasi peringkat polusi global, dan udara kotor membunuh lebih dari satu juta orang setiap tahun, menurut sebuah laporan oleh kelompok riset AS, Energy Policy Institute di University of Chicago (EPIC).

Laporan tersebut menambahkan bahwa warga di India utara menghirup “tingkat polusi yang 10 kali lebih buruk daripada yang ditemukan di wilayah lain di dunia” dan, seiring waktu, tingkat polusi tinggi ini telah menyebar ke bagian-bagian lain India.

About Author

TriggerNetMedia

See author's posts

Tags: # Delhi Diselimuti Kabut Asap# Kualitas udara yang kian memburuk# Mohamad Agoes Aufiya# Munirka
Previous Post

Bupati Landak Minta 5 Pejabat OPD yang Baru Dilantik Menyesuaikan Diri dan Bertanggungjawab

Next Post

Anak Perempuan Afghanistan Mulai Dijual Keluarga untuk Bertahan Hidup

Next Post

Anak Perempuan Afghanistan Mulai Dijual Keluarga untuk Bertahan Hidup

Korupsi Migas Rp285 Triliun, Eks Bos PPN Dituntut 14 Tahun

Korupsi Migas Rp285 Triliun, Eks Bos PPN Dituntut 14 Tahun

23 April 2026
Cegah Stunting Sejak Dini, Deteksi Preeklamsia Jadi Kunci

Cegah Stunting Sejak Dini, Deteksi Preeklamsia Jadi Kunci

23 April 2026
Tak Cukup di Rumah Sakit, Terapi Cerebral Palsy Perlu Konsistensi di Rumah

Tak Cukup di Rumah Sakit, Terapi Cerebral Palsy Perlu Konsistensi di Rumah

23 April 2026

Gallery Video

  • DEBAT PUBLIK ANTAR PASANGAN BUPATI DAN WAKIL BUPATI KABUPATEN KETAPANG TAHUN 2024
    • DEBAT PUBLIK ANTAR PASANGAN BUPATI DAN WAKIL BUPATI KABUPATEN KETAPANG TAHUN 2024

    • Watch Video

  • DEBAT PUBLIK PASLON BUPATI DAN WAKIL BUPATI KETAPANG 2020 SEGMEN 3
    • DEBAT PUBLIK PASLON BUPATI DAN WAKIL BUPATI KETAPANG 2020 SEGMEN 3

    • Watch Video

  • DEBAT PUBLIK PASLON BUPATI DAN WAKIL BUPATI KETAPANG 2020 SEGMEN 4
    • DEBAT PUBLIK PASLON BUPATI DAN WAKIL BUPATI KETAPANG 2020 SEGMEN 4

    • Watch Video

  • DEBAT PUBLIK PASLON BUPATI DAN WAKIL BUPATI KETAPANG 2020 SEGMEN 5
    • DEBAT PUBLIK PASLON BUPATI DAN WAKIL BUPATI KETAPANG 2020 SEGMEN 5

    • Watch Video

  • KAMPUNG KB MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
    • KAMPUNG KB MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

    • Watch Video

  • DPRD SAHKAN APBD KABUPATEN MEMPAWAH TA 2021 Rp1,08 TRILIUN
    • DPRD SAHKAN APBD KABUPATEN MEMPAWAH TA 2021 Rp1,08 TRILIUN

    • Watch Video

Advertisement Space Availble

Recent News

  • Korupsi Migas Rp285 Triliun, Eks Bos PPN Dituntut 14 Tahun
  • Cegah Stunting Sejak Dini, Deteksi Preeklamsia Jadi Kunci
  • Tak Cukup di Rumah Sakit, Terapi Cerebral Palsy Perlu Konsistensi di Rumah

PT. KALBAR INFORMASI GROUP (KBIG)

Recent News

Korupsi Migas Rp285 Triliun, Eks Bos PPN Dituntut 14 Tahun

Korupsi Migas Rp285 Triliun, Eks Bos PPN Dituntut 14 Tahun

23 April 2026
Cegah Stunting Sejak Dini, Deteksi Preeklamsia Jadi Kunci

Cegah Stunting Sejak Dini, Deteksi Preeklamsia Jadi Kunci

23 April 2026
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kode Prilaku Perusahaan Pers
  • Amsi

copyright © 2025 banner 120x600

No Result
View All Result
  • Home
  • Kalbar
    • Pontianak
    • Kayong Utara
    • Ketapang
    • Kubu Raya
    • Kapuas Raya
    • Landak
    • Mempawah
    • Sanggau
    • SingBeBas
    • Kapuas Hulu
  • News
    • Peristiwa
    • Sospolhukam
    • Metropolitan
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Bisnis
    • Industri
    • Makro
    • IHSG
    • Fintech
  • Edutaiment
    • Literasi
    • Edukasi
    • Budaya
    • Gadgets
    • IT
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Kabar Arena
    • Otomotif
  • Lifestyle
    • Comunity
    • Kekinian
    • Fashion
    • Milenial
  • Infotainment
    • Selebritis
    • Film
    • Music
    • Zodiak
  • Kuliner
    • Food
    • Pesona Dunia
    • Pesona Nusantara
  • Pariwara
    • Videotron
    • Foto
    • Kanal Iklan

copyright © 2025 banner 120x600