Trigger Netmedia
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Sospolhukam
    • Metropolitan
    • Nasional
    • Internasional
  • Kalbar
    • Pontianak
    • Kayong Utara
    • Ketapang
    • Kubu Raya
    • Kapuas Raya
    • Landak
    • Mempawah
    • Sanggau
    • SingBeBas
    • Kapuas Hulu
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Bisnis
    • Industri
    • Makro
    • IHSG
    • Fintech
  • Edutaiment
    • Literasi
    • Edukasi
    • Budaya
    • Gadgets
    • IT
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Kabar Arena
    • Otomotif
  • Infotainment
    • Selebritis
    • Film
    • Music
    • Zodiak
    • Comunity
    • Kekinian
    • Fashion
    • Milenial
  • Kuliner
    • Food
    • Pesona Dunia
    • Pesona Nusantara
  • Pariwara
    • Videotron
    • Foto
    • Kanal Iklan
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Sospolhukam
    • Metropolitan
    • Nasional
    • Internasional
  • Kalbar
    • Pontianak
    • Kayong Utara
    • Ketapang
    • Kubu Raya
    • Kapuas Raya
    • Landak
    • Mempawah
    • Sanggau
    • SingBeBas
    • Kapuas Hulu
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Bisnis
    • Industri
    • Makro
    • IHSG
    • Fintech
  • Edutaiment
    • Literasi
    • Edukasi
    • Budaya
    • Gadgets
    • IT
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Kabar Arena
    • Otomotif
  • Infotainment
    • Selebritis
    • Film
    • Music
    • Zodiak
    • Comunity
    • Kekinian
    • Fashion
    • Milenial
  • Kuliner
    • Food
    • Pesona Dunia
    • Pesona Nusantara
  • Pariwara
    • Videotron
    • Foto
    • Kanal Iklan
No Result
View All Result
Trigger Netmedia
No Result
View All Result
Home Film

Film G-30S/PKI, Staf Ahli Menkominfo: Jangan Ada Paksaan Nonton dan Harus Percaya

TriggerNetMedia by TriggerNetMedia
1 Oktober 2021
in Film, Headline, News, Sorotan, Sospolhukam
0
Film G-30S/PKI, Staf Ahli Menkominfo: Jangan Ada Paksaan Nonton dan Harus Percaya

Poster nobar Film G30 S PKI yang diselenggarakan FUI

0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

triggernetmedia.com – Gerakan 30 September atau G30S selalu menjadi momentum bersejarah yang kontroversial. Sebagian kelompok kepentingan kerap memanfaatkan momentum itu untuk menarik perhatian publik dengan menggaungkan isu pemberontakan Partai Komunis Indonesia atau PKI.

Salah satunya dengan menanyangkan film yang diproduksi di era pemerintahan otoriter orde baru dengan judul G30S/PKI.

Menanggapi hal itu, Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Henry Subiakto mengatakan bahwa film G30S itu sejak dibuat dan diputar setiap tahun dipakai sebagai alat politik oleh kelompok tertentu. Kata Henri, film G30S itu dahulu dibuat sebagai sarana pembenar sejarah versi orde baru.

“Para seniman pembuat film G30S/PKI itu, sebagaimana para akademisi, wartawan, bahkan ulama diharuskan berperan sebagai ideological state aparatus, aparat ideologis yang membenarkan semua komunikasi versi negara,” kata Henry kepada Suara.com, Kamis (30/9/2021).

Henry berujar, jika tidak membenarkan versi negara, pembuat film ketika itu tak akan mendapat izin membuat film atau izin pemutaran film. Pasalnya ketika itu, semua informasi dan komunikasi yang beredar di publik dikendalikan oleh pemerintah, sehingga hasilnya pro dan membenarkan versi sejarah orde baru.

“Karena di masa Orde Baru semua informasi dan komunikasi yang beredar di publik dikendalikan oleh negara. Ya hasilnya tentu yang pro dan membenarkan versi sejarah Orba,” ucap dia.

Namun kata Henry, film G30S sekarang ini menuai kontroversi sehingga bergeser maknanya. Menurutnya, film G-30 S-PKI kalau diputar dan pihak yang memutar dan yang menonton bermakna anti terhadap PKI.

“Jadi pemutaran dan menonton film itu adalah pesan politik yang bermakna sebagai bukti anti terhadap PKI,” tutur Henry.

Terkait soal adanya nonton bareng film G30S, Henry tak mempermasalahkannya. Bagi dia, yang terpenting tidak memaksakan orang untuk menonton dan tidak memaksakan orang untuk mempercayai isi filmnya. Sebab, film G30S memiliki banyak versi.

“Yang penting tidak ada pemaksaan sebagai harus nonton dan tidak boleh ada pemaksaan harus percaya dengan isinya. Karena secara akademis harus diakui sejarah G30S/PKI itu terdapat banyak versi. Film itu hanya salah satu versi saja,” kata dia.

Henry menuturkan, di era Orba cara pemerintah membuat rakyat tunduk dan terhegomoni selama 32 tahun itu melalui dua jenis apparatus. Pertama repressive state apparatus, yaitu tangan-tangan negara yang menggunakan kekerasan untuk membuat rakyat tunduk. Mereka adalah Tentara, Polisi, Kejaksaan, Intelejen dan lainnya.

“Kalau yang bekerja hanya Repressive State Apparatus, maka dikhawatirkan akan terjadi gejolak, karena dasarnya tekanan dengan hukum dan tindakan,” ucap Henry.

Kedua, era Orba menggunakan Ideological State Apparatus agar ada ketertundukan secara soft. Yakni menggunakan kalangan intelektual, agamawan, seniman dan lain-lain untuk menyuarakan kebenaran versi penguasa orba.

Adapun film G30S/PKI merupakan bagian dari produk Ideological State Apparatus.

“Tapi Orba itu selama 32 tahun berhasil menanamkan ideologinya di berbagai lapisan masyarakat sehingga dianggap sebagai kebenaran yang pantas diterima. Hanya kalangan ilmuwan sosial yang kritis yang memiliki perspektif yang berbeda. Itu pun tidak banyak,” tuturnya.

Ketika ditanya apakah generasi muda saat ini masih banyak yang memiliki keinginan untuk menonton Film G30S, Henry menyebut hal tersebut masih banyak. Menurutnya, apa yang ditanamkan orba masih sangat kuat meski generasi muda saat ini tidak terkena langsung.

Pasalnya, kata Henry, masih terdapat fanatisme orangtua terhadap kebenaran sejarah versi orba masih kuat. Terlebih diperkuat dengan adanya perang komunikasi politik di media sosial.

“Anak muda memang tidak terkena langsung, tapi fanatisme orang-orang tua terhadap kebenaran sejarah versi Orba masih kuat, dan mereka lah yang mensosialisasikan sejarah itu, termasuk kebencian terhadap mereka yang dilabeli atau dituduh komunis,” kata dia.

“Prasangka sosial yang sudah ada sejak Orba itu kan diperkuat dengan perang komunikasi politik di medsos sekarang.
Penayangan dan menonton Film G30S/PKI itu tidak bisa dilepaskan dengan keriuhan perang komunikasi di medsos,” tuturnya.

 

Sumber : Suara.com

About Author

TriggerNetMedia

See author's posts

Tags: gerakan 30 septemberPaksaan NontonPartai Komunis IndonesiaStaf Ahli Menkominfo
Previous Post

Mendagri: Pemerintah Kota Jadi Pilar Utama Dalam Menjaga Toleransi

Next Post

Pengamat Singgung 212 yang Selalu Ribut soal Kebangkitan PKI

TriggerNetMedia

TriggerNetMedia

Next Post
Pengamat Singgung 212 yang Selalu Ribut soal Kebangkitan PKI

Pengamat Singgung 212 yang Selalu Ribut soal Kebangkitan PKI

Stay Connected test

  • 24k Followers
  • 23.9k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
AKI dan AKB Masih Tinggi, Indonesia Terpaut Jauh dari Target SDGs

AKI dan AKB Masih Tinggi, Indonesia Terpaut Jauh dari Target SDGs

16 Juli 2025
Jabat Dewan Syuro, Anggota Komisi Fatwa MUI Berperan Beri Masukan dan Nasihat ke JI

Jabat Dewan Syuro, Anggota Komisi Fatwa MUI Berperan Beri Masukan dan Nasihat ke JI

17 November 2021
Kronologi Polemik Ijazah Jokowi: Dari Gugatan Hukum hingga Drama Politik

Kronologi Polemik Ijazah Jokowi: Dari Gugatan Hukum hingga Drama Politik

18 Juli 2025
Status PPPK Paruh Waktu Dihapus, Revisi UU ASN Kembalikan Struktur Dua Pilar

Status PPPK Paruh Waktu Dihapus, Revisi UU ASN Kembalikan Struktur Dua Pilar

26 November 2025
Bandara Rahadi Oesman Ketapang Hentikan Sementara Layanan Penerbangan Komersial

Bandara Rahadi Oesman Ketapang Hentikan Sementara Layanan Penerbangan Komersial

0
2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

0
14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

0
Prabowo Resmikan Kantor DPD Gerindra di Banten

Prabowo Resmikan Kantor DPD Gerindra di Banten

0
Lomba 17 Agustus Bergeser ke Esports, Tradisi Beradaptasi di Era Digital

Lomba 17 Agustus Bergeser ke Esports, Tradisi Beradaptasi di Era Digital

9 Agustus 2026
Jalan Sehat Warga Pontianak Selatan Sambil Pungut Sampah

Jalan Sehat Warga Pontianak Selatan Sambil Pungut Sampah

9 Agustus 2026
Pontianak Raih Juara III MTQ Kalbar, Bersiap Jadi Tuan Rumah Tahun Depan

Pontianak Raih Juara III MTQ Kalbar, Bersiap Jadi Tuan Rumah Tahun Depan

9 Agustus 2026
HYROX Jadi Tren Baru Anak Muda Urban, Olahraga Intens Dipadukan dengan Pemulihan

HYROX Jadi Tren Baru Anak Muda Urban, Olahraga Intens Dipadukan dengan Pemulihan

8 Agustus 2026

Recent News

Lomba 17 Agustus Bergeser ke Esports, Tradisi Beradaptasi di Era Digital

Lomba 17 Agustus Bergeser ke Esports, Tradisi Beradaptasi di Era Digital

9 Agustus 2026
Jalan Sehat Warga Pontianak Selatan Sambil Pungut Sampah

Jalan Sehat Warga Pontianak Selatan Sambil Pungut Sampah

9 Agustus 2026
Pontianak Raih Juara III MTQ Kalbar, Bersiap Jadi Tuan Rumah Tahun Depan

Pontianak Raih Juara III MTQ Kalbar, Bersiap Jadi Tuan Rumah Tahun Depan

9 Agustus 2026
HYROX Jadi Tren Baru Anak Muda Urban, Olahraga Intens Dipadukan dengan Pemulihan

HYROX Jadi Tren Baru Anak Muda Urban, Olahraga Intens Dipadukan dengan Pemulihan

8 Agustus 2026
  • Kode Etik
  • Kode Prilaku Perusahaan Pers
  • Tentang Kami
  • Redaksi

© 2026 triggernetmedia development

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Sospolhukam
    • Metropolitan
    • Nasional
    • Internasional
  • Kalbar
    • Pontianak
    • Kayong Utara
    • Ketapang
    • Kubu Raya
    • Kapuas Raya
    • Landak
    • Mempawah
    • Sanggau
    • SingBeBas
    • Kapuas Hulu
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Bisnis
    • Industri
    • Makro
    • IHSG
    • Fintech
  • Edutaiment
    • Literasi
    • Edukasi
    • Budaya
    • Gadgets
    • IT
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Kabar Arena
    • Otomotif
  • Infotainment
    • Selebritis
    • Film
    • Music
    • Zodiak
    • Comunity
    • Kekinian
    • Fashion
    • Milenial
  • Kuliner
    • Food
    • Pesona Dunia
    • Pesona Nusantara
  • Pariwara
    • Videotron
    • Foto
    • Kanal Iklan

© 2026 triggernetmedia development