triggernetmedia.com – Adanya aturan pembatasan perayaan Imlek dan Cap Co Meh (CGM) tahun ini diakui para pedagang pernak-pernik dan peragkat sembayang dan ritual etnis tionghoa di Kabupaten Ketapang mengalami penurunan omset. Penurunan omset itu dirasakan cukup signifikan, hingga mencapai lebih dari 80 persen.
Acek Tebu (56) satu dari pedagang di Jalan Merdeka Ketapang mengatakan, untuk penjualan jelang Imlek tahun ini sangat menurun drastis.
“Biang keroknya mungkin imbas dari pandemi covid-19 yang berkepanjangan juga ini di Ketapang,” katanya.
“Jauh sekali bang, omset penjualan tahun ini sangat menurun sampai 80 persen lebih turunnya, ya karena saat pendemi ini kan banyak yang di larang ya, jadi minat masyarakat tionghoa untuk membeli perhiasan imlek itu jauh berkurang” katanya menambahkan.
Pria yang sudah menekuni usaha penjualan pernak-pernik dan perlengkapan sembayang etnis tionghoa sejak 2012 ini mennuturkan, jika di banding tahun sebelumnya, tahun ini dirinya tak berani memasok pernak-pernik imlek sebanyak tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau tahun ini kita tak berani nyetok banyak bang, hanya barang-barang yang kemungkinan besar dj beli saja, karena takut tidak habis. Paling banyak kita setok cuma lampion, stiker doa, sama kantong angpao, selebihnya hanya peralatan sembayang, itu jak” sebutnya.
Pedagang lainnya, Dessy (24) mengatakan, untuk tahun ini omset penjualan memang berkurang sangat jauh, meski setiap harinya masih ada pembeli dalam jumlah kecil.
“Memang betul penjualan tahun ini jauh menurun, tak bisa dielakan karena pandemi ini, walaupun di toko kita setiap hari selalu ada yang belanja barang-barang kecil, kalau tahun kemarin banyak yang datang pake borong untuk perhiasan rumah,” ujar Dessy yang juga pedagang pernak-pernik perlengkapan sembahyang etnis tionghoa di Jalan Merdeka, Ketapang.
Dessy berharap pemerintah dapat segera mnyelesaikan masalah pandemi di Indonesia. Apalagi sudah ada vaksin yang didistribusikan oleh pemerintah. Ia pun berharap seluruh umat beragama dapat kembali merayakan perayaan ibadah mereka masing-masing dengan sukacita.
“Ya mudah-mudahan pemerintah bisa cepat menghilangkan masalaah covid ini ya, kan sudah ada vaksin yang dibagikan, jadi tahun depan kita bisa meriah lagi, idulfitri bareng teman, Natal sama teman, imlek bisa meriah kaya tahun lalu, kalau seperti ini kan semua jadi tidak meriah,” ujarnya.
Sementara itu, satu dari warga tionghoa asal Kota Ketapang Handoyo (51) mengatakan, di tahun ini dirinya hanya membeli beberapa lampion untuk hiasan rumah serta pernak-pernik hiasan kecil untuk perayaan malam imlek bersama keluarganya di rumah.
“Saya cuma membeli lampion secukupnya untuk hiasan di depan rumah, perhiasan kecil-kecil untuk di dalam rumah, karena tahun ini memang kita hanya merayakan imlek di rumah bersama keluarga, sesuai anjuran pemerintah, ya di tambah kembang api kecil lah untuk anak-anak main di depan rumah di saat malam imlek,” ujarnnya.
Handoyo mengaku jika dirinya juga membatalkan rencana untuk merayakan imlek di Kota Pontianak dan Cap Go Meh Kota Singkawang. Hal itu dia lakukan untuk menghindari kerumunan dan menjauhkan keluarga dari kemungkinan penularan Covid-19 saat ada kerumunan.
“Memang dulu kita ada rencana mau ke Pontianak sama Singkawang untuk merayakan imlek dan cap go meh tahun ini, hanya saya batalkan karena takut keluarga tertular covid saat di kerumunan, jadi tahun ini ya kami sekeluarga cukup di Ketapang saja,” tandasnya.
Jhon I Ariz
