Trigger Netmedia
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Sospolhukam
    • Metropolitan
    • Nasional
    • Internasional
  • Kalbar
    • Pontianak
    • Kayong Utara
    • Ketapang
    • Kubu Raya
    • Kapuas Raya
    • Landak
    • Mempawah
    • Sanggau
    • SingBeBas
    • Kapuas Hulu
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Bisnis
    • Industri
    • Makro
    • IHSG
    • Fintech
  • Edutaiment
    • Literasi
    • Edukasi
    • Budaya
    • Gadgets
    • IT
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Kabar Arena
    • Otomotif
  • Infotainment
    • Selebritis
    • Film
    • Music
    • Zodiak
    • Comunity
    • Kekinian
    • Fashion
    • Milenial
  • Kuliner
    • Food
    • Pesona Dunia
    • Pesona Nusantara
  • Pariwara
    • Videotron
    • Foto
    • Kanal Iklan
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Sospolhukam
    • Metropolitan
    • Nasional
    • Internasional
  • Kalbar
    • Pontianak
    • Kayong Utara
    • Ketapang
    • Kubu Raya
    • Kapuas Raya
    • Landak
    • Mempawah
    • Sanggau
    • SingBeBas
    • Kapuas Hulu
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Bisnis
    • Industri
    • Makro
    • IHSG
    • Fintech
  • Edutaiment
    • Literasi
    • Edukasi
    • Budaya
    • Gadgets
    • IT
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Kabar Arena
    • Otomotif
  • Infotainment
    • Selebritis
    • Film
    • Music
    • Zodiak
    • Comunity
    • Kekinian
    • Fashion
    • Milenial
  • Kuliner
    • Food
    • Pesona Dunia
    • Pesona Nusantara
  • Pariwara
    • Videotron
    • Foto
    • Kanal Iklan
No Result
View All Result
Trigger Netmedia
No Result
View All Result
Home Headline

Karhutla Kian Mempersempit Kelangsungan Hidup Orangutan

ariz by ariz
7 Februari 2020
in Headline, Ketapang, Kilas Kalbar
0
Karhutla Kian Mempersempit Kelangsungan Hidup Orangutan

Individu orangutan yang berhasil diselamatkan Tim Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang telah menyelamatkan belasan orangutan bersama IAR Indonesia di Kabupaten Ketapang.

0
SHARES
4
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

triggernetmedia.com – Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta mengungkapkan, kemarau panjang yang terjadi pada tahun 2019 lalu menyisakan ratusan hektare hutan dan lahan terbakar di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Ironisnya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut menimbulkan kerusakan ekologi. Bahkan habitat orangutan kini semakin terancam.

Kekinian, sambungnya, Tim Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang menilai dampak karhutla sepanjang kemarau 2019 benar-benar merusak lingkungan dan ekosistem.

“Tak hanya merusak lingkungan dan ekosistem. Dampak karhutla bahkan melenyapkan hutan sebagai tempat tinggal individu orangutan sebagai tempat bergantung hidup di alam terbuka,” kata Sadtata Noor Adirahmanta, Jum’at (7/2).

Sadtata Noor Adirahmanta menyebut, kerusakan lingkungan dan ekosistem, seperti satwa liar misalnya terhadap individu orangutan, pada akhirnya akan menyengsarakan manusia. Apalagi kekhawatiran semakin maraknya konflik antara satwa dilindungi itu dengan manusia masih terjadi.

“Kegiatan penyelamatan yang kita lakukan hanyalah sebuah tindakan kecil, bahkan sangat kecil jika dibandingkan dengan langkah-langkah dan kebijakan yang seharusnya diambil kedepan. Demi kehidupan semua populasi orangutan yang tersisa, Kita harus terus bekerja sangat keras untuk melindungi habitat mereka dari karhutla dan kerusakan lingkungan,” ujarnya.

“Kepedulian akan keberadaan lingkungan dan kelestarian satwa menjadi tanggungjawab bersama baik pemerintah, mitra maupun masyarakat. Karena pada hakekatnya peduli pada lingkungan dan satwa liar adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri,” ujarnya menambahkan.

Sebelumnya sepanjang kemarau 2019, Tim Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang telah menyelamatkan belasan orangutan di Kabupaten Ketapang.

Evakuasi terhadap dua individu orangutan dilaporkan Purnomo, warga setempat yang pertamakali mengetahui keberadaan dua individu orangutan yang sudah 3 hari bersarang di depan rumahnya di jalan Pelang-Tumbang Titi.

“Saya kira mungkin orangutan ini berasal dari hutan di sebelah timur jalan yang kondisinya rusak berat karena terbakar dan tandus. Akhirnya orangutan ini menyeberang jalan raya dan masuk ke pemukiman kami,” kata Purnomo, Jum’at (7/2).

Menurut Purnomo karhutla yang terjadi di Kabupaten Ketapang benar-benar telah merampas ruang gerak dan sumber makanan sehari-hari bagi individu orangutan disini.

“Kenyataannya hutan memang sudah benar-benar musnah dan tidak ada lagi tempat untuk menyelamatkan diri. Jika sebelumnya individu orangutan ini biasanya akan bergantung pada hutan. Sekarang, justru kehidupan orangutan kini lebih cenderung berakhir di kebun atau pemukiman warga. Belum lagi menghadapi resiko konflik dengan manusia,” ujar Purnomo.

Purnomo membeberkan, kondisi hutan dan lahan yang menjadi habitat orangutan dikawasan tersebut memang sama sekali tak menyisakan tempat berlindung. Pepohonan dan semak belukar rata dan tandus pasca terbakar. Kekinian, yang bertumbuh hanyalah ilalang.

Hanya perlu waktu beberapa minggu untuk menghanguskan hutan dan perlu waktu puluhan tahun untuk bisa merestorasinya kembali.

Ketika tim penyelamat datang, mereka bahkan menemukan 3 individu orangutan. Satu orangutan merupakan pejantan dewasa. Kemudian 1 betina dewasa bersama anaknya, yang diperkirakan baru berusia 3 tahun.

“Memang orangutan tersebut bertahan di pohon kering. Dan sepertinya memang individu orangutan itu tampak kesulitan menahan beban mereka.

Kita tim penyelamat yang berfokus pada penyelamatan bahkan sempat kehilangan induk dan anak orangutan jantan ini.

Tentu saja yang kami utamakan adalah menyelamatkan induk dan anak individu orangutan ini, karena memang kondisi keduanya lebih mengkhawatirkan daripada orangutan yang jantan,“ ujar Argitoe Ranting, Manager Survey IAR Indonesia.

“Orangutan jantan itu masih sangat liar dan masih cukup kuat. Kami pikir dia masih akan lebih bisa bertahan untuk waktu yang lama. Meski demikian, kami tetap menurunkan tim patroli Orangutan Protection Unit (OPU) untuk melakukan patroli dan monitoring di sekitar kawasan ini, karena sebenarnya daya dukung kehidupan untuk orangutan bisa dikatakan tidak ada sama sekali disini,” jelas Argitoe Ranting.

Berdasarkan hasil observasi sementara di lapangan, saat itu induk orangutan ini mengalami malnutrisi dengan badan yang sangat kurus. Diduga induk anak orangutan ini mengalami kelaparan selama berbulan-bulan. Kondisi individu orangutan itu tentu saja sangat megkhawatirkan, sebab, cukup lama tersiksa akibat terdampak karhutla sepanjang kemarau 20919 lalu di Kabupaten Ketapang. Akibatnya hutan yang dihuni orangutan itu kini tandus dan gersang terpapar api karhutla.

Hal lain, kondisi kerusakan hutan dan lahan serta kerusakan ekologi di Kabupaten ketapang terpantau dari udara. Dari pengamatan tim Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang menyebutkan, sudah tidak ada lagi hutan yang layak bagi orangutan ini untuk hidup dalam radius beberapa kilometer. Meski demikian, terpenting saat ini induk anak orangutan yang diberi nama Mama Rawa dan baby Rawa itu sudah diselamatkan dan dibawa ke Pusat Rehabilitasi Orangutan IAR Indonesia di Sungai Awan, Ketapang, guna menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Nantinya kedua orangutan ini akan dipindahkan ke hutan yang lebih layak untuk menjamin kehidupannya.

Sementara itu, direktur program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez menyebut kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ketapang merupakan ancaman terbesar bagi habitat individu orangutan. Hilangnya hutan dengan skala besar akibat karhutla, membuat tidak ada lagi ruang kehidupan yang luas dan bebas bagi orangutan untuk dapat bertahan hidup.

“Tentu saja upaya penyelamatan merupakan pilihan tepat bagi kita. Karena kita tidak bisa membiarkan individu orangutan hidup di sisa sisa pepohohan yang telah dimakan api dan tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk pergi, apalagi sampai terjadi konflik individu orangutan dengan manusia,” katanya.

Jhon I Ariz

About Author

ariz

See author's posts

Tags: BKSDA KalbarIAR IndonesiaKarhutla di Kabupaten KetapangOrangutan terdampak Karhutla di KetapangPenyelamatan Orangutan
Previous Post

Antisipasi Listrik Padam Pada Puncak Perayaan Imlek dan Cap Go Meh Singkawang

Next Post

Kubu Raya Tekan Angka Kematian Ibu dan Balita

ariz

ariz

Next Post
Kubu Raya Tekan Angka Kematian Ibu dan Balita

Kubu Raya Tekan Angka Kematian Ibu dan Balita

Stay Connected test

  • 24k Followers
  • 23.9k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
AKI dan AKB Masih Tinggi, Indonesia Terpaut Jauh dari Target SDGs

AKI dan AKB Masih Tinggi, Indonesia Terpaut Jauh dari Target SDGs

16 Juli 2025
Jabat Dewan Syuro, Anggota Komisi Fatwa MUI Berperan Beri Masukan dan Nasihat ke JI

Jabat Dewan Syuro, Anggota Komisi Fatwa MUI Berperan Beri Masukan dan Nasihat ke JI

17 November 2021
Kronologi Polemik Ijazah Jokowi: Dari Gugatan Hukum hingga Drama Politik

Kronologi Polemik Ijazah Jokowi: Dari Gugatan Hukum hingga Drama Politik

18 Juli 2025
Status PPPK Paruh Waktu Dihapus, Revisi UU ASN Kembalikan Struktur Dua Pilar

Status PPPK Paruh Waktu Dihapus, Revisi UU ASN Kembalikan Struktur Dua Pilar

26 November 2025
Bandara Rahadi Oesman Ketapang Hentikan Sementara Layanan Penerbangan Komersial

Bandara Rahadi Oesman Ketapang Hentikan Sementara Layanan Penerbangan Komersial

0
2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

0
14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

0
Prabowo Resmikan Kantor DPD Gerindra di Banten

Prabowo Resmikan Kantor DPD Gerindra di Banten

0
QRIS Makin Diminati, Edi Kamtono Dorong UMKM Pontianak Naik Kelas

QRIS Makin Diminati, Edi Kamtono Dorong UMKM Pontianak Naik Kelas

16 Agustus 2026
BNPB Desak Enam Kabupaten Segera Tetapkan Status Darurat Gempa NTT

BNPB Desak Enam Kabupaten Segera Tetapkan Status Darurat Gempa NTT

16 Agustus 2026
Gempa M7,7 Guncang NTT, 47 Orang Meninggal dan 5.000 Warga Mengungsi

Gempa M7,7 Guncang NTT, 47 Orang Meninggal dan 5.000 Warga Mengungsi

16 Agustus 2026
Cara Nonton Live Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 2026 dan Jadwal Upacaranya

Cara Nonton Live Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 2026 dan Jadwal Upacaranya

16 Agustus 2026

Recent News

QRIS Makin Diminati, Edi Kamtono Dorong UMKM Pontianak Naik Kelas

QRIS Makin Diminati, Edi Kamtono Dorong UMKM Pontianak Naik Kelas

16 Agustus 2026
BNPB Desak Enam Kabupaten Segera Tetapkan Status Darurat Gempa NTT

BNPB Desak Enam Kabupaten Segera Tetapkan Status Darurat Gempa NTT

16 Agustus 2026
Gempa M7,7 Guncang NTT, 47 Orang Meninggal dan 5.000 Warga Mengungsi

Gempa M7,7 Guncang NTT, 47 Orang Meninggal dan 5.000 Warga Mengungsi

16 Agustus 2026
Cara Nonton Live Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 2026 dan Jadwal Upacaranya

Cara Nonton Live Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 2026 dan Jadwal Upacaranya

16 Agustus 2026
  • Kode Etik
  • Kode Prilaku Perusahaan Pers
  • Tentang Kami
  • Redaksi

© 2026 triggernetmedia development

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Sospolhukam
    • Metropolitan
    • Nasional
    • Internasional
  • Kalbar
    • Pontianak
    • Kayong Utara
    • Ketapang
    • Kubu Raya
    • Kapuas Raya
    • Landak
    • Mempawah
    • Sanggau
    • SingBeBas
    • Kapuas Hulu
  • Ekonomi
    • Keuangan
    • Bisnis
    • Industri
    • Makro
    • IHSG
    • Fintech
  • Edutaiment
    • Literasi
    • Edukasi
    • Budaya
    • Gadgets
    • IT
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Kabar Arena
    • Otomotif
  • Infotainment
    • Selebritis
    • Film
    • Music
    • Zodiak
    • Comunity
    • Kekinian
    • Fashion
    • Milenial
  • Kuliner
    • Food
    • Pesona Dunia
    • Pesona Nusantara
  • Pariwara
    • Videotron
    • Foto
    • Kanal Iklan

© 2026 triggernetmedia development