triggernetmedia.com – Tahun politik seringkali menjadi masa di mana situasi dan suasana politik memanas, dengan berbagai konflik dan provokasi yang mengguncang opini publik. Namun, dalam suasana yang tegang seperti ini, perlu ada pendekatan yang lebih bijak dan menyejukkan.
Gus Dur, yang terkenal dengan kelakarnya “Gitu aja kok repot,” memberikan pesan penting untuk tidak terlalu emosional dan mempersulit situasi.
Menurut Irjen Chryshnanda Dwilaksana, Kasespim Lemdiklat Polri, saat ini kita berada dalam era “post-truth” di mana segala sesuatu tampaknya dapat dimanipulasi, dan konflik sering dipicu oleh berbagai provokasi yang beredar di media sosial.
Untuk mengatasi ketegangan ini, perlu adanya pendekatan yang lebih bijak dan membawa suasana adem ayem.
Pemilu, sebagai bagian dari demokrasi, seharusnya dianggap sebagai pesta kebudayaan dan ikon peradaban. Namun, seringkali pemilu juga diwarnai oleh praktik-praktik yang kontroversial, seperti pemberian mahar.
Mahar: Antara Kesepakatan dan Penghormatan
Mahar, dalam konteks politik, sering kali menjadi topik yang diperbincangkan. Mahar dapat dipahami sebagai tanda saling memahami, menerima, atau sebagai wujud penghormatan dan kompensasi atas sesuatu.
Mahar tidak hanya berbentuk uang, tetapi juga barang-barang yang berkaitan dengan kekuatan supranatural.
Dalam konteks politik, istilah mahar digunakan untuk menghaluskan atau membuat lebih sopan dalam hubungan politik, jabatan, atau kekuasaan. Mahar juga menjadi bagian dari proses menjembatani pemberian rekomendasi atau restu dalam dunia politik.
Peran Para Broker dalam Politik
Para broker dalam politik memainkan peran penting dalam menjalankan transaksi politik. Mereka adalah penghubung antara pihak yang memberi mahar dan pihak yang menerima rekomendasi atau restu.
Para broker menggunakan pendekatan personal dalam berbisnis politik, menjadi “soft power” atau “smart power” yang berfokus pada komunikasi, kedekatan, dan kepercayaan.
Para broker memiliki kemampuan untuk menentukan besaran mahar sesuai dengan tingkat kekuatan atau kekuasaan yang ditawarkan dalam suatu transaksi politik. Semakin besar sumber daya yang ditransaksikan, semakin besar pula maharnya.
Nggege Mongso: Tindakan yang Memprovokasi
Dalam konteks politik, istilah “nggege mongso” digunakan untuk menggambarkan tindakan yang memprovokasi dan merusak suasana politik.
Orang yang melakukan tindakan “nggege mongso” cenderung menggunakan berbagai cara untuk mencapai kekuasaan dan kekayaan, tanpa memperhatikan nilai-nilai moral dan etika.
Mereka menggunakan berbagai topeng dan manipulasi untuk memaksakan kehendak mereka, seringkali dengan tujuan yang egois. Tindakan “nggege mongso” ini dapat mengganggu ketentraman dalam masyarakat dan politik.
Kartun dan Karikatur sebagai Penyejuk Suasana dalam Politik
Dalam suasana politik yang tegang, kartun dan karikatur dapat menjadi oase yang memberikan humor dan penyegaran. Melalui seni ini, pesan politik dapat disampaikan dengan cara yang lebih santun dan menghibur.
Karikaturis dan kartunis memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan-pesan politik dengan cara yang kreatif. Mereka menggunakan ide, teknik, dan kritik yang tegas namun tetap humanis dalam karyanya.
Pameran karikatur seperti ini juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan politik kepada masyarakat, terutama generasi muda, dengan cara yang menghibur dan memberi motivasi untuk berpartisipasi dalam politik dengan damai.










