triggernetmedia.com – Melirik geliat warga Kota Pontianak yang bermukim di bantaran Sungai Kapuas, Kelurahan Tambelan Sampit, Kecamatan Pontianak Timur setiap jelang perayaan hari raya idul fitri merupakan hal menarik setiap tahunnya.
Tak jarang, penampakan meriam karbit dengan moncong kayu berdiameter antara 50 – 70 centimeter dengan panjang 5 hingga 6 meter, yang disusun berjejer mengarah keseberang sungai berjejer.
Menariknya meriam-meriam tersebut selalu diwarnai dengan ragam motif khas yang bernuansa kearifan lokal Kota Pontianak.
Chandra (33), warga Tambelan Sampit, tatkala menyulut meriam karbit mengaku sensasi bermain meriam karbit sangat memberikan kepuasan tersendiri. Meski bunyi dari permainan tradisional itu kerap membuat telinga terdengar dahsyat. Permainan meriam karbit baginya sudah menjadi tradisi yang selayaknya dilestarikan dan dimainkan saat bulan Ramadan dan menyambut Idul Fitri ini sangat dahsyat
“Bermain meriam karbit ini sudah menjadi bagian kehidupan bagi kami. Meski tanpa beberapa tahun terakhir ini Festival Meriam Karbit ditiadakan karena kondisi pandemi Covid-19. Namun kami warga Tambelan Sampit disini tetap memainkan permainan meriam karbit yang memang merupakan bagian dari sejarah berdirinya Kota Pontianak,” ungkap Chandra, Sabtu (30/2/2022) malam.
“Tahun ini kami siapkan tujuh meriam karbit untuk dimainkan menyambut lebaran,” sambungnya.
Untuk proses pembuatan hingga menghasilkan meriam karbit, dibutuhkan tiga sampai empat hari hingga siap untuk dimainkan atau dibunyikan. Biasanya meriam-meriam itu sudah dikerjakan Chandra bersama warga jauh-jauh hari sebelum bulan puasa.
“Supaya terlihat lebih menarik dan indah, meriam-meriam ini biasanya juga kami hiasi dengan cat berwarna-warni,” kata Chandra.
Menurut Chandra, untuk menghasilkan dentuman meriam yang menggelegar dan dahsyat, diperlukan karbit sebagai bahan bakarnya. Karbit yang dipersiapkan pada permainan meriam itu sedikitnya dibutuhkan sekitar 150 sampai 200 kilogram.
“Untuk menghasilkan bunyi yang besar, idealnya sebuah meriam membutuhkan bahan bakar karbit sebanyak seperempat kilogram karbit. Waktu yang dibutuhkan untuk karbit berproses, idealnya enam sampai tujuh menit meriam siap untuk disulut dan menghasilkan dentuman,” jelasnya.
Chandra mengaku bermain meriam karbit bagi dirinya adalah sebuah kebanggaan. Selain ikut melestarikan tradisi dan budaya yang dimiliki Kota Pontianak, permainan meriam karbit diketahuinya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
“Saya pun meyakini permainan meriam karbit ini tak akan lekang oleh waktu, karena sudah menjadi bagian kehidupan warga Pontianak khususnya yang bermukim di tepian Sungai Kapuas ini,” ujarnya.
Festival Meriam Karbit Tahun 2022 ditiadakan
Seperti diketahui Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menegaskan bahwa Festival Meriam Karbit tahun ini kembali ditiadakan sebagaimana tahun lalu. Kendati demikian, permainan meriam karbit tetap diperbolehkan.
“Kalau masyarakat ingin memainkan meriam karbit silakan, tetapi tahun ini kita tidak menggelar festival seperti tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Dikatakannya, sejak awal pandemi Covid-19, yakni tahun 2020 festival yang banyak menyedot perhatian masyarakat ini sementara ditiadakan. Langkah itu diambil sebagai upaya mencegah kerumunan orang di tengah kondisi pandemi Covid-19.
“Insya Allah tahun depan kita akan gelar supaya lebih meriah lagi,” ucap Edi.
Meski permainan rakyat yang dimainkan di tepian Sungai Kapuas ini diperkenankan, namun Edi berharap masyarakat tetap menjaga protokol kesehatan mengingat pandemi Covid-19 belum berakhir. Apabila ada warga yang merasa sakit atau tidak enak badan, sebaiknya tidak ikut memainkan atau menyaksikan permainan berbahan bakar karbit tersebut.
“Artinya warga masyarakat yang merasa sakit, kalau bisa jangan memaksakan diri untuk datang nonton atau berkerumun. Sebaiknya istirahat di rumah saja untuk mengembalikan stamina,” imbaunya.
Sebagian besar komunitas pemain meriam karbit berada di Wilayah Pontianak Timur, Selatan dan Tenggara, terutama mereka yang bermukim di tepian Sungai Kapuas. Permainan tradisional yang sudah lama ada ini merupakan salah satu aset yang dimiliki Kota Pontianak dan hanya satu-satunya di dunia meriam karbit sebesar ini.
“Permainan meriam karbit ini perlu kita lestarikan agar budaya yang kita miliki tidak punah ditelan zaman,” pungkasnya.




