triggernetmedia.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menempatkan ekonomi digital sebagai salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk mencapai target 6 persen pada 2027. Strategi tersebut didukung penguatan investasi, peningkatan produktivitas tenaga kerja, serta pengembangan ekspor bernilai tambah.
Airlangga menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kumulatif atau cumulative-to-cumulative (c-to-c) mencapai 5,45 persen pada semester I-2026. Capaian tersebut menjadi pijakan pemerintah untuk mengejar target pertumbuhan yang lebih tinggi pada tahun depan.
“Tahun 2027, Pemerintah menargetkan pertumbuhan sebesar 6,0 persen, inflasi 2,5 persen,” kata Airlangga dalam keterangan pers yang dikutip Senin (19/10/2026).
Menurut Airlangga, pencapaian target tersebut membutuhkan tiga prasyarat utama, yakni pertumbuhan investasi yang lebih tinggi daripada pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), peningkatan produktivitas pekerja, dan penguatan ekspor bernilai tambah.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan investasi sebesar 8–9 persen dengan nilai penanaman modal mencapai Rp2.258 triliun. Dalam kerangka tersebut, ekonomi digital dipandang sebagai salah satu sektor yang dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Airlangga memaparkan, nilai transaksi bruto atau Gross Merchandise Value (GMV) ekonomi digital Indonesia mendekati 100 miliar dolar AS pada 2025, meningkat 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mencapai 65,77 juta orang dengan 44,86 juta merchant.
Untuk memperkuat potensi tersebut, pemerintah mendorong pengembangan ekosistem digital yang terintegrasi, mulai dari peningkatan kualitas talenta digital, pengembangan semikonduktor dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), hingga penyediaan infrastruktur pendukung, termasuk pusat data.
Di tingkat regional, pemerintah juga telah menyelesaikan perundingan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Perjanjian tersebut ditargetkan ditandatangani bersamaan dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN pada November 2026 di Filipina, dengan proses ratifikasi ditargetkan rampung dalam 180 hari setelah penandatanganan.
Kajian Boston Consulting Group memperkirakan implementasi DEFA dapat meningkatkan nilai ekonomi digital kawasan ASEAN dari 1 triliun dolar AS menjadi 2 triliun dolar AS pada 2030.
Namun, peningkatan transaksi digital juga perlu diimbangi dengan penguatan sistem keamanan. Airlangga mencatat Bank Indonesia (BI) membukukan 12,99 miliar transaksi pembayaran digital pada triwulan III-2025, tumbuh 38,08 persen secara tahunan.
Untuk mengantisipasi risiko keamanan data, pemerintah menyiapkan penerapan kriptografi tahan kuantum. Langkah ini ditujukan untuk menghadapi ancaman Harvest Now, Decrypt Later (HNDL), yakni praktik pencurian data terenkripsi untuk dibuka pada masa mendatang menggunakan kemampuan komputasi kuantum.
Upaya tersebut mencakup penerapan Post-Quantum Cryptography (PQC) serta pembentukan Gugus Tugas Nasional Penyiapan Migrasi Kriptografi Tahan Kuantum oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Dari sisi infrastruktur, Airlangga menekankan bahwa pengembangan pusat data membutuhkan dukungan ketersediaan lahan, listrik, dan air. Kapasitas pusat data yang telah beroperasi saat ini disebut mencapai 600–700 megawatt, sedangkan proyek dalam tahap pengembangan atau pipeline mencapai 1,3 gigawatt dengan estimasi nilai investasi 15–20 miliar dolar AS.
Selain itu, NVIDIA disebut tengah menjajaki investasi senilai 4,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp80,1 triliun di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam. Rencana tersebut masih dalam tahap pembicaraan.
Pada sektor perdagangan digital, nilai e-commerce Indonesia diproyeksikan tumbuh lebih dari 14 persen menjadi 71 miliar dolar AS. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia diperkirakan tetap menjadi pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara.
Pemerintah juga menargetkan transaksi Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) mencapai Rp40 triliun pada akhir 2026, meningkat 10 persen dari realisasi Rp36,4 triliun pada 2025. Target tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem perdagangan digital nasional.
Sementara itu, kerja sama internasional di bidang AI melalui World AI Collaboration Organization (WAICO) diperkirakan berpotensi menarik investasi sebesar 8–12 miliar dolar AS selama periode 2026–2030.
Airlangga menegaskan, pencapaian target pertumbuhan ekonomi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga pemangku kepentingan lainnya.
“Pencapaian target pertumbuhan ekonomi membutuhkan kolaborasi Pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan agar pertumbuhan semakin tinggi dan inklusif, dan manfaatnya dirasakan masyarakat luas,” ujar Airlangga.










