triggernetmedia.com – Bank Indonesia (BI) mencatat aktivitas dunia usaha Indonesia mulai kehilangan momentum pada kuartal III-2026. Meski masih berada di zona pertumbuhan, kinerja usaha menunjukkan perlambatan yang diperkirakan berlanjut hingga kuartal IV-2026. Di tengah kondisi tersebut, penyerapan tenaga kerja, khususnya di sektor industri pengolahan dan perdagangan, masih menghadapi tekanan.
Berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada kuartal III-2026 tercatat sebesar 11,46%, turun dibandingkan kuartal II-2026 yang mencapai 12,97%.
Pelemahan tersebut diperkirakan berlanjut pada kuartal IV-2026. BI memprakirakan SBT kegiatan usaha kembali turun menjadi 10,77%, yang menunjukkan bahwa pertumbuhan aktivitas bisnis berpotensi semakin terbatas menjelang akhir tahun.
Sejumlah sektor masih mencatat pertumbuhan, antara lain industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan. Namun, laju kegiatan usaha diperkirakan melambat di beberapa sektor, sementara pertanian, kehutanan, dan perikanan berisiko mengalami kontraksi.
Pada kuartal III-2026, SBT kegiatan usaha sektor pertanian masih positif sebesar 0,39%. Akan tetapi, indikator tersebut diprakirakan berbalik menjadi minus 0,58% pada kuartal IV-2026. BI mengaitkan proyeksi tersebut dengan masuknya musim tanam, peremajaan tanaman perkebunan kelapa sawit, serta kondisi cuaca yang kurang mendukung.
Tekanan juga terlihat pada indikator penggunaan tenaga kerja. SBT penggunaan tenaga kerja pada kuartal III-2026 tercatat hanya sebesar 0,07%, turun dari 0,14% pada kuartal sebelumnya. Angka tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan aktivitas usaha belum diikuti penguatan penyerapan tenaga kerja secara signifikan.
Sektor industri pengolahan masih menjadi salah satu perhatian. Meskipun kondisinya membaik dibandingkan kuartal sebelumnya, penggunaan tenaga kerja di sektor ini masih berada di zona kontraksi dengan SBT minus 0,36%. Pada kuartal IV-2026, indikator tersebut diprakirakan tetap negatif, meski membaik menjadi minus 0,12%.
Kondisi serupa terjadi pada sektor perdagangan. Di tengah kegiatan usaha yang relatif stabil dengan SBT 1,08% pada kuartal III-2026, penggunaan tenaga kerja sektor ini justru mencatat kontraksi sebesar minus 0,22%. Hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan yang tetap tumbuh belum otomatis mendorong peningkatan penyerapan pekerja.
Meski demikian, BI memperkirakan penggunaan tenaga kerja secara keseluruhan membaik pada kuartal IV-2026, dengan SBT meningkat menjadi 0,97%. Perbaikan ini antara lain dipengaruhi faktor musiman, seperti perayaan Natal dan libur akhir tahun, serta penambahan layanan di sektor jasa keuangan. Namun, proyeksi tersebut belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa perbaikan penyerapan tenaga kerja akan berlangsung merata dan berkelanjutan.
Dari sisi harga, tekanan harga jual di tingkat produsen juga menunjukkan perlambatan. SBT harga jual pada kuartal III-2026 tercatat sebesar 19,24%, turun dari 22,38% pada kuartal II-2026. BI memprakirakan indikator tersebut kembali turun menjadi 12,69% pada kuartal IV-2026.
Perlambatan harga jual dipengaruhi oleh penyesuaian biaya bahan baku, harga batu bara acuan, serta strategi promosi dan pemberian potongan harga oleh peritel untuk menjaga permintaan. Meski demikian, penurunan indikator harga jual tidak serta-merta menunjukkan melemahnya permintaan konsumen karena dapat pula mencerminkan penyesuaian biaya dan strategi penjualan pelaku usaha.
Sementara itu, perkembangan upah tercatat sebesar 9,24%, lebih rendah dibandingkan 39,20% pada semester I-2026 dan 10,49% pada semester II-2025. Rata-rata upah pegawai di bawah level mandor atau supervisor mencapai Rp3,87 juta per bulan, sedangkan pegawai setingkat mandor atau supervisor menerima rata-rata Rp5,96 juta per bulan.
Di tengah perlambatan aktivitas usaha, sejumlah indikator keuangan perusahaan masih menunjukkan perbaikan. Indikator likuiditas meningkat dari 15,03% menjadi 15,56%, sementara rentabilitas naik dari 11,87% menjadi 13,11%. Akses terhadap kredit perbankan juga masih dinilai relatif mudah, meskipun indikatornya turun dari 2,45% menjadi 1,84%.
Dari sisi investasi, kegiatan penanaman modal dunia usaha masih tumbuh. SBT investasi pada kuartal III-2026 tercatat sebesar 6,23%, meningkat dari 5,46% pada kuartal sebelumnya. Namun, BI memprakirakan indikator tersebut sedikit melambat menjadi 5,64% pada kuartal IV-2026.
Secara keseluruhan, hasil survei BI menunjukkan aktivitas dunia usaha masih tumbuh, tetapi momentumnya cenderung melemah menjelang akhir 2026. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan usaha, investasi, dan perbaikan kondisi keuangan perusahaan dapat diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja yang lebih luas dan berkelanjutan.










