triggernetmedia.com – Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mendorong Program Kampung Iklim (ProKlim) berkembang menjadi gerakan nyata masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Menurutnya, perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan kondisi yang telah dirasakan saat ini, mulai dari peningkatan suhu, cuaca yang tidak menentu, hingga pasang air laut yang memicu genangan di sejumlah wilayah.
“Kita membutuhkan gerakan bersama yang masif dan dimulai dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat, yaitu RT, RW dan kelurahan,” ujarnya saat membuka Sosialisasi Program Kampung Iklim Kota Pontianak Tahun 2026 di Aula Sultan Syarif Abdurrahman, Kantor Wali Kota Pontianak, Kamis (15/10/2026).
Bahasan mengatakan, ProKlim menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Upaya tersebut dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti penghijauan pekarangan, pemanenan air hujan, menjaga kebersihan parit dan sungai, mengelola sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle (3R), mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta menghemat energi dan air.
Ia menargetkan setiap kelurahan di Kota Pontianak dapat membentuk sedikitnya satu hingga dua RW berbasis ProKlim. Dengan total 29 kelurahan, target tersebut diharapkan mampu mendorong terbentuknya puluhan kawasan tangguh iklim baru secara bertahap.
“Saya ingin minimal satu sampai dua RW berbasis ProKlim lahir di setiap kelurahan. Camat dan lurah harus menjadi motor penggerak, identifikasi potensi lokal, rangkul pemuda, PKK, tokoh masyarakat dan seluruh warga,” katanya.
Bahasan menilai Kota Pontianak memiliki modal yang cukup baik untuk mengembangkan program tersebut. Pada 2025, tiga kawasan di Pontianak memperoleh penghargaan ProKlim dari Kementerian Lingkungan Hidup, yakni RW 27 Kampung Tangguh Bencana Siantan Hulu, RW 15 Kampung Tenun Batu Layang, serta RW 33 Kampung Gambut Siantan Hilir.
Capaian tersebut, lanjutnya, harus menjadi pemicu bagi wilayah lain untuk menerapkan praktik serupa. Keberhasilan sejumlah kawasan diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak warga agar berpartisipasi aktif dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
“Prestasi ini jangan membuat kita puas. Justru harus menular ke RW lain. Kita ingin ProKlim menjadi kebutuhan dan budaya hidup baru masyarakat,” tutupnya.











