triggernetmedia.com – Pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) mulai didorong masuk ke lingkungan usaha kecil dan menengah (UKM), tidak hanya untuk kebutuhan administrasi dan pembuatan konten, tetapi juga untuk mengolah data serta meningkatkan efisiensi proses produksi.
Pemanfaatan AI, data, dan Smart Factory menjadi salah satu fokus transformasi teknologi bagi koperasi dan UKM Indonesia melalui Korea-Indonesia Smart Factory Seminar yang digelar di BINUS @Bekasi.
Program tersebut merupakan bagian dari Program ODA Smart Factory yang sebelumnya menggelar pelatihan selama empat hari pada 14–17 September 2026. Sebanyak 30 peserta dari 14 perusahaan dan koperasi mengikuti pelatihan mengenai Smart Factory, pemanfaatan data, dan teknologi digital.
Data Jadi Fondasi Smart Factory
Dalam penerapan Smart Factory, data menjadi salah satu komponen penting karena berbagai aktivitas operasional perlu diubah menjadi informasi yang dapat dianalisis.
Seminar tersebut menghadirkan sesi mengenai data dan AI untuk mendukung Smart Factory bersama perwakilan Indonesian Cloud. Peserta diperkenalkan pada pemanfaatan data dan AI untuk mendukung transformasi digital di lingkungan koperasi dan UKM.
Dengan pendekatan tersebut, AI tidak hanya ditempatkan sebagai teknologi yang berdiri sendiri. Data dari proses bisnis dapat digunakan untuk membaca pola, mengevaluasi proses, serta mengidentifikasi peluang peningkatan efisiensi.
AI Dipraktikkan untuk Pengolahan Data
Penerapan teknologi juga diperkenalkan secara langsung melalui workshop bertajuk “AI untuk Pengolahan Data: Smart Factory menggunakan Orange 3” yang menghadirkan narasumber dari BINUS University.
Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan pada penggunaan AI dan pengolahan data menggunakan Orange 3, perangkat yang dapat membantu proses analisis sekaligus visualisasi data.
Pendekatan ini memberikan gambaran yang lebih praktis kepada pelaku UKM mengenai penerapan Smart Factory, termasuk bagaimana data dapat diolah untuk mendukung proses bisnis.
Sementara itu, sesi bersama PT Internex Indonesia membahas transformasi digital di sektor manufaktur, termasuk pemanfaatan teknologi untuk mendukung efisiensi dan produktivitas proses bisnis.
UKM Tak Cukup Sekadar Memiliki Teknologi
Masuknya AI ke sektor UKM juga membawa tantangan. Kepemilikan perangkat teknologi belum otomatis membuat proses bisnis menjadi lebih efisien.
Kemampuan sumber daya manusia dalam memahami dan menerapkan teknologi menjadi faktor penting agar investasi digital dapat memberikan manfaat bagi operasional usaha.
“Transformasi digital tidak cukup hanya dengan pengetahuan, tetapi harus diikuti dengan kemampuan untuk menerapkan teknologi secara nyata dalam proses bisnis,” ujar Pengawas Ahli Utama Kementerian Koperasi RI Daniel Asnur dalam keterangan resminya, Jumat (25/9/2026).
Menurut Daniel, Program ODA Smart Factory tidak hanya memberikan pelatihan dan peningkatan kapasitas. Koperasi dan UKM juga mendapatkan dukungan peralatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Dengan demikian, transformasi yang didorong melalui program tersebut tidak berhenti pada edukasi, tetapi diarahkan hingga penerapan teknologi dalam proses operasional.
Smart Factory Jadi Tahap Lanjutan
Seminar yang diikuti lebih dari 100 pelaku UKM dan perwakilan perusahaan tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, perusahaan teknologi, industri, serta dunia usaha.
Program ODA Smart Factory memasuki tahun terakhir pelaksanaannya pada 2026. Kementerian Koperasi berharap pengalaman dari program tersebut dapat menjadi praktik yang dikembangkan dan direplikasi untuk menjangkau lebih banyak koperasi dan UKM.
Kerja sama dengan Pemerintah Republik Korea dan INNOBIZ Association juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem transformasi teknologi bagi koperasi dan UKM Indonesia.










