triggernetmedia.com – Kementerian Sosial (Kemensos) menemukan adanya transaksi judi online dengan nilai fantastis pada rekening yang terhubung dengan keluarga penerima bantuan sosial (bansos). Salah satu transaksi yang tengah ditelusuri mencapai Rp2,68 miliar dalam kurun waktu satu tahun.
Temuan tersebut merupakan bagian dari penelusuran Kemensos terhadap 1,49 juta penerima bansos yang terindikasi memiliki keterkaitan dengan aktivitas judi online berdasarkan data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Kepala Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial (Pusdatin Kesos) Kemensos Joko Widiarto mengatakan, transaksi senilai Rp2,68 miliar tersebut ditemukan pada satu rekening di Jawa Barat sepanjang 2025.
“Kami masih mendeteksi kenapa ada satu orang yang transaksinya besar sekali. Dari satu rekening, transaksinya mencapai Rp2,68 miliar dalam satu tahun,” kata Joko di Kantor Kemensos, Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Namun, Joko menegaskan bahwa transaksi judi online tersebut tidak dilakukan secara langsung oleh penerima bansos. Aktivitas tersebut diduga dilakukan oleh anggota keluarga penerima bantuan dan menggunakan rekening yang berbeda dengan rekening penyaluran bansos.
Meski demikian, Kemensos tetap melakukan penelusuran terhadap kondisi sosial ekonomi seluruh anggota keluarga. Sebab, aktivitas judi online dinilai dapat memengaruhi kondisi ekonomi rumah tangga dan menjadi salah satu indikator dalam mengevaluasi kelayakan penerima bantuan.
Transaksi Miliaran Jadi Bahan Evaluasi
Kemensos kini mendalami kondisi ekonomi keluarga yang memiliki transaksi dalam jumlah besar tersebut. Nilai transaksi miliaran rupiah menjadi salah satu informasi yang akan dicocokkan dengan kondisi sosial ekonomi keluarga.
Jika hasil verifikasi menunjukkan keluarga tersebut sudah berada dalam kategori mampu, status penerima bansos dapat dievaluasi dan bantuan berpotensi dihentikan.
Joko menjelaskan, kondisi ekonomi masyarakat dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, data penerima bansos perlu terus diperbarui agar bantuan pemerintah benar-benar diterima masyarakat yang masih membutuhkan.
“Kalau dulu mungkin dia tidak mampu, kemudian sekarang mampu. Kalau transaksinya sebesar itu, berarti ada kemungkinan kondisi ekonominya sudah berubah,” ujarnya.
Kemensos juga terus melakukan pemutakhiran data untuk memastikan penyaluran bansos lebih tepat sasaran. Langkah tersebut diperlukan agar bantuan sosial tidak lagi diberikan kepada keluarga yang telah mengalami peningkatan kemampuan ekonomi, sekaligus memastikan masyarakat yang benar-benar membutuhkan tetap mendapatkan bantuan.








