triggernetmedia.com – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya dalam ekosistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) global. Menurut dia, kekayaan mineral kritis yang dimiliki Indonesia perlu dimanfaatkan sebagai instrumen diplomasi untuk memperoleh akses terhadap teknologi, komputasi, dan industri semikonduktor.
Pernyataan itu disampaikan Nezar dalam Jakarta Geopolitical Forum sebagaimana dikutip dari keterangan resmi Kementerian Komunikasi dan Digital, Jumat (10/7/2026).
“Indonesia perlu menggunakan mineral kritis untuk menegosiasikan akses yang lebih baik ke komputasi, transfer teknologi, dan kemitraan manufaktur,” kata Nezar.
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki posisi strategis karena menguasai sejumlah komoditas yang menjadi bahan baku penting bagi industri teknologi global. Menurut dia, potensi tersebut harus dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, bukan hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Nezar menyebut Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia yang berperan penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik. Selain itu, Indonesia merupakan produsen kobalt terbesar kedua di dunia yang digunakan dalam baterai berperforma tinggi dan semikonduktor, serta eksportir bijih tembaga terbesar ketiga yang dibutuhkan untuk sistem pengkabelan dan pendinginan pusat data.
“Kami memiliki cadangan nikel terbesar di dunia yang memberi posisi kuat dalam rantai pasok baterai global. Kami juga produsen kobalt terbesar kedua dan eksportir bijih tembaga terbesar ketiga, yang menjadi material penting bagi infrastruktur AI,” ujarnya.
Menurut Nezar, keunggulan tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk berperan lebih besar dalam industri AI global.
“Kekayaan mineral ini merupakan keunggulan strategis kami. Hal ini memungkinkan kami melampaui posisi sebagai konsumen teknologi dan menjadi pemain penting dalam ekosistem AI global,” katanya.
Di tengah persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok, Nezar menilai Indonesia perlu membangun strategi digital yang berorientasi pada kepentingan nasional. Ia menyebut sedikitnya terdapat empat modal utama yang dimiliki Indonesia, yakni cadangan mineral kritis, pasar digital terbesar di Asia Tenggara, bonus demografi, dan potensi pengembangan kapasitas komputasi.
Menurut dia, seluruh potensi tersebut perlu diintegrasikan dengan pembangunan talenta digital, penguatan tata kelola data, serta pengembangan industri teknologi agar Indonesia mampu bersaing dalam ekonomi digital global.
Nezar menambahkan, keunggulan suatu negara pada era AI tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan inovasi, tetapi juga oleh kemampuannya membangun ekosistem yang mencakup sumber daya manusia, infrastruktur komputasi, data, dan industri.
Karena itu, pemerintah memprioritaskan pengembangan diplomasi chip, penguatan pasokan energi bagi pusat data, pengembangan talenta AI dan semikonduktor, penguatan kedaulatan data, serta pengembangan teknologi AI yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
Menurut Nezar, keberhasilan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 bergantung pada konsistensi pemerintah dalam membangun fondasi digital secara berkelanjutan.
“Kekuatan digital pada akhirnya bukan hanya tentang teknologi semata. Ini tentang kemauan politik untuk mempertahankan strategi lintas pemerintahan, membangun institusi secara bertahap, dan menentukan masa depan geopolitik baru Indonesia,” ujarnya.










