triggernetmedia.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kapasitas pusat data (data center) di Indonesia akan meningkat signifikan seiring masuknya investasi di sektor infrastruktur digital. Saat ini kapasitas terpasang mencapai 580 megawatt (MW), sedangkan proyek yang telah masuk tahap pengembangan diperkirakan menambah kapasitas sekitar 1,3 gigawatt (GW).
“Menyinggung data center, kapasitas terpasang kita sekarang setara dengan 580 megawatt. Dan yang sudah masuk pipeline investasi sekitar 1,3 gigawatt. Jadi ini sebuah angka yang besar,” kata Airlangga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, belum lama ini di Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Menurut Airlangga, peningkatan kapasitas pusat data menjadi salah satu prasyarat utama dalam membangun ekosistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kebutuhan komputasi yang terus meningkat membuat keberadaan data center menjadi infrastruktur strategis untuk mendukung transformasi digital nasional.
Pemerintah, kata dia, terus memperkuat ekosistem tersebut melalui pembangunan jaringan kabel serat optik antarpulau serta pengembangan titik pendaratan kabel bawah laut (landing point) yang menghubungkan Indonesia dengan berbagai negara.
“Yang terkait dengan AI, kuncinya adalah ekosistem digital. Pertama tentu green energy. Kedua infrastruktur antarpulau yang kita sudah punya melalui fiber optic, dan juga landing point ke berbagai negara di kawasan,” ujarnya.
Airlangga mengungkapkan pemerintah akan menambah landing point yang menghubungkan Batam dengan Singapura. Selain itu, Indonesia telah memiliki landing point di Bitung, Sulawesi Utara, yang terhubung langsung ke Amerika Serikat.
“Di samping itu, kita juga punya landing point di Bitung untuk ke Amerika. Jadi itu sangat potensial untuk pengembangan data center,” katanya.
Ia menuturkan, besarnya investasi yang mengalir ke sektor pusat data tercermin dari kebutuhan belanja modal yang diperkirakan mencapai sekitar US$1 juta untuk setiap megawatt kapasitas. Dengan tambahan proyek sebesar 1,3 GW, nilai investasi yang dibutuhkan mencapai miliaran dolar Amerika Serikat.
Khusus pengembangan pusat data di Batam, nilai investasinya diperkirakan berkisar antara US$15 miliar hingga US$20 miliar dan saat ini telah memasuki tahap pengembangan.
“Yang di Batam itu investasinya sekitar US$15 sampai US$20 miliar dan sekarang sudah masuk pipeline,” ujar Airlangga.
Ia menambahkan, sejumlah perusahaan teknologi global mulai memperluas investasinya di Indonesia. Nvidia disebut bekerja sama dengan mitra dari Australia, sementara Telkom juga berencana menambah investasi di sektor pusat data. Selain itu, sejumlah perusahaan teknologi global (Big Tech) tengah menyiapkan ekspansi data center di Karawang.
“Perusahaannya salah satu Nvidia bekerja sama dengan Australia, kemudian Telkom juga akan berinvestasi. Di Karawang hampir seluruh Big Tech akan mengembangkan ekspansi data center karena infrastruktur ini menjadi kunci pengembangan AI yang mengandalkan quantum computing,” kata Airlangga.










