triggernetmedia.com – Sisa akar gigi yang dibiarkan terlalu lama berisiko menjadi sumber infeksi di rongga mulut dan dapat berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan. Namun, masih banyak masyarakat yang menganggap kondisi tersebut tidak memerlukan penanganan selama belum menimbulkan rasa nyeri.
Dokter gigi RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, drg. Zulfa Trisa Az-zahra, mengatakan sisa akar gigi merupakan bagian gigi yang masih tertinggal di dalam gusi akibat kerusakan yang parah atau gigi yang patah.
“Padahal sisa akar gigi merupakan bagian yang tertinggal di dalam gusi akibat kerusakan gigi yang parah atau gigi yang patah,” kata Zulfa saat memberikan edukasi kepada pasien dan pengunjung RSUD SSMA Kota Pontianak, Kamis (9/7/2026).
Menurut Zulfa, sisa akar gigi dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri sehingga memicu berbagai gangguan kesehatan mulut, mulai dari pembengkakan gusi, abses atau penumpukan nanah, bau mulut, nyeri, hingga kesulitan mengunyah.
Ia menegaskan infeksi yang berasal dari sisa akar gigi tidak boleh dianggap sepele. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan infeksi berulang, kerusakan tulang penyangga gigi, pembentukan abses, hingga peradangan pada jaringan gusi di sekitarnya.
“Infeksi yang berasal dari sisa akar gigi tidak boleh dianggap sepele. Jika tidak segera ditangani, dalam jangka panjang dapat menimbulkan infeksi berulang, pembentukan abses atau kantong nanah, kerusakan tulang penyangga gigi serta peradangan pada jaringan gusi di sekitarnya,” ujarnya.
Zulfa menjelaskan sisa akar gigi dapat dialami siapa saja, baik usia muda maupun dewasa. Ketiadaan rasa sakit bukan berarti kondisi tersebut aman karena bakteri tetap dapat berkembang di sekitar akar gigi yang tertinggal dan sewaktu-waktu memicu infeksi akut.
Ia menambahkan, sejumlah kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi dan komplikasi, di antaranya lansia, ibu hamil, penyandang diabetes, penderita penyakit jantung, perokok, serta individu dengan daya tahan tubuh yang menurun akibat penyakit kronis atau terapi tertentu.
Karena itu, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke dokter gigi apabila memiliki gigi rusak hingga menyisakan akar, mengalami nyeri berkepanjangan, gusi bengkak, keluar nanah, atau bau mulut yang tidak kunjung hilang.
“Penanganan dapat berupa perawatan saluran akar apabila masih memungkinkan atau pencabutan sisa akar gigi sesuai dengan hasil pemeriksaan dokter gigi,” kata Zulfa.
Selain pengobatan, ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut sebagai langkah pencegahan. Upaya tersebut antara lain dengan menyikat gigi dua kali sehari, membersihkan sela-sela gigi, membatasi konsumsi makanan dan minuman manis, serta melakukan pemeriksaan gigi secara rutin setiap enam bulan.
“Jangan menunggu hingga rasa sakit semakin parah. Sisa akar gigi yang terlihat kecil dapat menjadi sumber infeksi yang besar. Penanganan sedini mungkin tidak hanya mencegah komplikasi, tetapi juga membantu mempertahankan fungsi pengunyahan, kesehatan rongga mulut serta kesehatan tubuh secara menyeluruh,” ujar Zulfa.











