triggernetmedia.com – Aksi simbolik Aliansi BEM se-Universitas Indonesia (BEM se-UI) di depan Mabes Polri berujung ricuh setelah aparat melucuti keranda bambu yang dibawa massa sebagai “kado” Hari Bhayangkara ke-80.
Kericuhan bermula saat mahasiswa menggotong keranda yang dibalut kain hijau bertuliskan “Kepolisian Republik Indonesia” menuju gerbang Mabes Polri. Aparat kemudian menghadang barisan massa.
Aksi saling dorong tidak terhindarkan ketika petugas menarik kain penutup keranda hingga hanya menyisakan rangka bambunya. Mahasiswa berusaha mempertahankan atribut tersebut sambil memprotes tindakan aparat.
Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI, Hafidz Haernanda, mempertanyakan alasan kepolisian melarang aksi simbolik itu.
“Biasanya di Hari Bhayangkara karangan bunga dikasih, tapi kenapa saat ini kita tidak boleh memberi? Kita kan juga mau kasih hadiah bonus aja, keranda. Karena pada nyatanya, Polri itu udah nggak ngurusin kita semua. Polri itu ngurusnya dapur MBG, Polri itu ngurusnya koperasi,” kata Hafidz melalui pengeras suara.
Aksi bertajuk #MatinyaReformasiPolri itu digelar sebagai bentuk kritik terhadap perluasan peran Polri di ruang sipil. Massa juga menyoroti draf revisi Undang-Undang Polri yang dinilai memberikan kewenangan lebih besar kepada institusi kepolisian tanpa diimbangi pengawasan yang memadai, termasuk usulan penambahan batas usia pensiun perwira tinggi.
Dalam orasinya, Hafidz juga menyinggung sejumlah dugaan kasus kekerasan yang melibatkan aparat kepolisian.
“Tahun ini sudah ada yang meninggal, kalau teman-teman ingat. Pada bulan Februari, almarhum Arianta Tawakal, remaja 14 tahun, dibunuh di atas trotoar yang kita bayar. Pantas dong kalau kita bilang bahwa reformasi Polri sudah mati. Ini merupakan bukti nyata,” ujarnya.
Situasi mulai mereda setelah seorang perwakilan kepolisian mengajak massa berdialog. Polisi meminta mahasiswa memindahkan lokasi aksi ke kawasan Baharkam atau Museum Polri agar tidak mengganggu arus lalu lintas.
Namun, permintaan tersebut ditolak. Massa tetap bersikeras menyampaikan aspirasi di depan Mabes Polri dan meminta bertemu langsung dengan pejabat tinggi kepolisian.
“Kita sudah memberi surat, datang secara langsung, bertemu di depan mata, tapi ia hanya ingin memindahkan kita. Pergi ke mana? Ke Baharkam? Ke Museum Polri? Apa relevansinya? Kita ingin bertemu stakeholders, tapi kita ditahan-tahan seperti ini,” kata Hafidz.
Hingga aksi berakhir, mahasiswa tetap bertahan di sekitar lokasi dengan pengawalan aparat kepolisian yang berjaga di sepanjang Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan.











