triggernetmedia.com – Kemampuan berbicara sering dianggap sebagai hal yang sederhana hingga seseorang kehilangan kemampuan untuk memahami atau menyampaikan makna dari kata-kata yang diucapkan.
Terapis Wicara RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Pontianak, Ridwan Sanjaya, mengatakan gangguan komunikasi kerap dialami orang dewasa yang mengalami stroke, cedera otak, gangguan neurologis, maupun kondisi kesehatan tertentu.
“Tidak sedikit penyintas stroke yang mampu mengucapkan kata-kata, tetapi kesulitan merangkainya menjadi kalimat yang bermakna,” kata Ridwan saat memberikan edukasi di RSUD SSMA Pontianak, Senin (15/6/2026).
Menurut Ridwan, sebagian pasien juga dapat mendengar suara lawan bicara dengan jelas, tetapi mengalami kesulitan memahami pesan yang disampaikan. Kondisi tersebut membuat komunikasi sehari-hari menjadi tantangan yang dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang.
Karena itu, terapi wicara menjadi bagian penting dalam proses rehabilitasi. Terapi tidak hanya berfokus pada pelafalan atau kejelasan suara, tetapi juga membantu pasien memulihkan kemampuan memahami bahasa, menyampaikan gagasan, mengekspresikan perasaan, dan berinteraksi dengan orang lain.
Dalam sesi terapi, pasien dilatih memahami instruksi sederhana, mengenali makna kata, menyusun kalimat, menceritakan pengalaman, hingga menggunakan strategi komunikasi alternatif apabila kemampuan berbicara masih terbatas.
“Setiap kemajuan, sekecil apa pun, merupakan langkah penting menuju kemandirian dan kualitas hidup yang lebih baik,” ujarnya.
Ridwan menambahkan, keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada pasien dan tenaga kesehatan, tetapi juga dukungan keluarga. Lingkungan yang sabar dan suportif dapat membantu mempercepat pemulihan kemampuan bahasa dan komunikasi pasien.
Menurut dia, komunikasi bukan sekadar kemampuan mengucapkan kata-kata, melainkan sarana untuk berbagi pikiran, memahami pesan, dan membangun hubungan sosial.
“Ketika kata-kata kehilangan arti akibat gangguan komunikasi, terapi wicara membantu orang dewasa menemukannya kembali, satu kata, satu makna, dan satu percakapan pada satu waktu,” katanya.











