triggernetmedia.com – Negara-negara yang tergabung dalam aliansi BRICS meningkatkan akumulasi cadangan emas dalam beberapa tahun terakhir. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat di tengah dinamika geopolitik global.
Harga emas dunia pada Selasa (21/4/2026) tercatat menguat di kisaran US$ 4.822 per troy ons. Penguatan ini terjadi seiring meningkatnya permintaan, termasuk dari negara-negara berkembang yang memperbesar cadangan emas mereka.
Blok BRICS yang kini mencakup lebih dari lima negara disebut menyumbang sekitar 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global dan hampir separuh populasi dunia. Secara kumulatif, cadangan emas negara-negara dalam kelompok ini diperkirakan telah melampaui 6.000 ton.
Peningkatan cadangan emas ini tidak semata-mata untuk diversifikasi investasi. Sejumlah analis menilai langkah tersebut berkaitan dengan upaya memperkuat kedaulatan moneter dan mengurangi risiko ketergantungan pada sistem keuangan global yang berbasis dolar AS.
Dominasi dolar dalam cadangan devisa global menunjukkan tren penurunan dalam beberapa dekade terakhir. Jika pada 1999 porsinya mencapai sekitar 71 persen, kini diperkirakan turun menjadi sekitar 57 persen.
Perubahan arah ini semakin menguat setelah pembekuan cadangan devisa Rusia oleh negara-negara Barat pada 2022. Peristiwa tersebut dinilai mendorong negara berkembang untuk mencari instrumen yang lebih aman, seperti emas fisik yang tidak terikat pada kebijakan negara lain.
Di sisi lain, pergeseran ini berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian Amerika Serikat, terutama dalam pembiayaan defisit fiskal. Penurunan minat terhadap obligasi pemerintah AS dapat berdampak pada kenaikan imbal hasil dan suku bunga domestik.
Laporan Dana Moneter Internasional (IMF) juga mencatat adanya kecenderungan bank sentral di negara berkembang untuk mendiversifikasi cadangan devisa ke aset non-tradisional, termasuk emas.




