triggernetmedia.com – Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP) Inger Andersen menyampaikan peringatan keras kepada para pemimpin dunia yang menghadiri Konferensi Iklim PBB ke-30 (COP30). Dalam pernyataannya, Andersen menegaskan bahwa waktu dunia untuk menahan laju krisis iklim semakin menipis, sementara aksi global yang dilakukan saat ini masih jauh dari cukup.
“Sejak Perjanjian Paris, ada peningkatan ambisi. Namun, peningkatan itu belum sebanding dengan skala ancaman yang kita hadapi,” kata Andersen, menilai bahwa capaian negara-negara belum mampu menahan laju pemanasan global yang terus meningkat.
Fosil sebagai Sumber Masalah Utama
Andersen menyebut bahan bakar fosil sebagai faktor terbesar yang menghambat penanganan krisis iklim. Karena itu, menurut dia, semua proses perundingan iklim harus mengarah pada pengurangan dan penghentian penggunaan minyak, batu bara, dan gas.
“Kita masih terperangkap dalam sistem ekonomi yang bergantung pada bahan bakar fosil. Transisi energi bersih harus dipercepat,” ujarnya.
Isyarat untuk Amerika Serikat
Dalam kesempatan itu, Andersen juga menyinggung absennya Amerika Serikat sebagai salah satu pengemisi terbesar dunia, meski tanpa menyebutkan negara tersebut secara eksplisit. Ia menekankan bahwa keberhasilan proses perundingan tidak boleh bergantung pada satu pihak, melainkan komitmen seluruh negara anggota PBB.
“Proses ini harus tetap berjalan, apa pun dinamika politik di negara mana pun,” katanya.
Ketergesaan yang Tak Bisa Ditunda
Pernyataan Andersen dianggap sebagai pengingat bahwa dunia berada dalam masa krisis yang menuntut aksi lebih cepat dan lebih tegas. Ia menegaskan bahwa perdebatan panjang mengenai arah kebijakan iklim harus segera diakhiri, karena tantangan yang dihadapi sudah semakin berat.
Dengan tekanan yang meningkat dan waktu yang semakin sempit, Andersen menekankan perlunya keberanian politik dari para pemimpin dunia. “Solusinya sudah ada. Yang diperlukan adalah kemauan untuk melakukannya,” ujarnya.











