triggernetmedia.com – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim PBB ke-30 (COP30) di Belem, Brasil, diwarnai aksi protes besar-besaran dari ribuan aktivis lingkungan, Kamis. Kelompok yang didominasi generasi muda dan masyarakat adat itu memblokade sejumlah akses menuju ruang perundingan sehingga jalannya konferensi sempat terhenti.
Dalam aksinya, para aktivis menuntut agar suara mereka dilibatkan dalam proses perumusan kebijakan iklim global. Mereka menilai keputusan-keputusan penting mengenai masa depan iklim dunia selama ini kerap diambil tanpa mempertimbangkan kelompok yang paling terdampak.
“Generasi muda frustrasi karena masa depan kami diputuskan tanpa melibatkan kami,” ujar Rachelle Junsay dari Climate Action Philippines. Ia mengkritik ruang perundingan yang menurutnya masih didominasi elite yang jauh dari realitas krisis iklim di lapangan.
Sorot Isu Lokal di Amazon
Protes juga menjadi saluran bagi aktivis lokal untuk menyuarakan isu-isu khas Amazon. Pemimpin organisasi pemuda Brasil, Ana Heloisa Alves, menyampaikan penolakannya terhadap rencana pemerintah yang dinilai berpotensi mengkomersialkan Sungai Tapajos, salah satu sungai penting di kawasan tersebut.
“Kita tidak bisa menutup mata terhadap energi sebesar ini,” kata Alves menanggapi gelombang protes yang berlangsung di sekitar area konferensi.
Ekspektasi Terbatas
Di tengah dinamika tersebut, sejumlah analis menilai hasil COP30 kemungkinan tidak akan menghasilkan terobosan baru. Agenda perundingan diperkirakan masih berfokus pada implementasi komitmen lama mengenai pendanaan iklim untuk negara-negara berkembang.
Ekspektasi kian menurun dengan absennya Amerika Serikat. Presiden Donald Trump, yang kembali menarik AS keluar dari Perjanjian Paris, menyatakan bahwa perubahan iklim bukan prioritas kebijakan pemerintahannya.
Ketiadaan AS, sebagai salah satu penyumbang emisi terbesar dunia, dipandang sebagai sinyal melemahnya dorongan politik global untuk mencapai kesepakatan bersama yang lebih ambisius.











