triggernetmedia.com – Pemerintahan presiden terpilih Prabowo Subianto menghadapi tantangan serius bahkan sebelum resmi dilantik. Analis politik dan aktivis Syahganda Nainggolan menyebut struktur kekuasaan yang diwarisi Prabowo dari pemerintahan Joko Widodo penuh dengan “kotoran” dan “benalu” yang berpotensi menggerogoti efektivitas pemerintahannya.
Pernyataan tajam ini disampaikan Syahganda dalam sebuah diskusi di Podcast Forum Keadilan TV, Jumat (1/8/2025). Ia menyebut elemen-elemen tidak produktif dan oportunistik dari era sebelumnya sebagai ancaman nyata terhadap stabilitas dan misi reformasi Prabowo.
“Saat ini pemerintahan Prabowo tercampur ‘kotoran Jokowi’ dan benalu-benalu yang perlu dibersihkan,” ujar Syahganda.
Basis Politik Rapuh, Konsolidasi Jadi Kebutuhan Mendesak
Syahganda menyoroti bahwa basis ideologis pemerintahan Prabowo masih rapuh. Di satu sisi, kekuatan nasionalis masih terkonsentrasi di PDI Perjuangan yang dipimpin Megawati Soekarnoputri. Di sisi lain, kelompok politik Islam sebagian besar mendukung rival politik Prabowo, Anies Baswedan, pada Pilpres 2024.
“Prabowo perlu mengkonsolidasikan kekuatan nasional dan Islam untuk memperkuat posisinya di dalam dan luar negeri,” tegasnya.
Ia mencatat bahwa gerakan konsolidasi sudah mulai terlihat, di antaranya melalui pendekatan politik oleh elite-elite Gerindra seperti Wakil Ketua Umum Sufmi Dasco Ahmad yang disebut aktif membangun komunikasi lintas poros politik.
Evolusi Dipercepat, Bukan Revolusi Instan
Meski menyarankan perombakan struktural besar-besaran, Syahganda menolak jalan revolusioner. Ia justru mendorong konsep “evolusi dipercepat” — pembenahan internal yang progresif namun tetap terukur.
Konsep ini meliputi evaluasi menyeluruh terhadap performa kementerian dan lembaga negara, serta penggantian pejabat-pejabat yang dianggap tidak sejalan dengan visi-misi presiden terpilih.
Langkah ini dinilai sejalan dengan gagasan “radical break” yang pernah dilontarkan pengamat politik Rocky Gerung, meski pendekatannya lebih moderat.
“Prabowo harus berani melakukan pembersihan, tapi tidak menciptakan instabilitas. Bukan revolusi, tapi evolusi yang dipercepat,” ujar Syahganda.











