triggernetmedia.com, PONTIANAK – Jurnalis dinilai memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam melawan paham terorisme, radikalisme, dan intoleransi, terutama di era digital saat ini. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalbar, Manto, dalam dialog publik yang digelar Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengda Kalbar, Kamis (25/7/2025).
“Di era kecanggihan media sosial dan media arus utama, kita menghadapi tantangan besar karena platform tersebut juga dimanfaatkan oleh oknum untuk menyebarkan paham-paham berbahaya,” ujar Manto.
Ia menjelaskan bahwa aksi terorisme tidak hanya menyasar satu agama atau kelompok tertentu, tetapi berpotensi menyerang semua kalangan tanpa pandang bulu, termasuk generasi muda yang rentan terpapar.
“Di Kalbar sendiri, kita sudah beberapa kali mendengar penangkapan jaringan terorisme. Ini menunjukkan bahwa ancaman itu nyata dan dekat,” katanya.
Peran Media: Edukasi Publik, Bukan Sekadar Sensasi
Manto yang juga menjabat sebagai Sekretaris Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalbar menekankan pentingnya media dalam membantu pemerintah melawan penyebaran paham radikal.
“Peran jurnalis bukan hanya memberitakan kejadian, tetapi juga mengedukasi masyarakat untuk mencegah paparan paham radikal sejak dini,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa meskipun wartawan mencari berita bernilai tinggi, tetap ada batasan-batasan yang perlu diperhatikan, terutama jika menyangkut anak-anak atau jaringan sensitif.
“Misalnya, jika ada anak yang terindikasi terpapar, atau jaringan yang masih dalam pantauan, tidak semua informasi bisa dipublikasikan demi mencegah dampak negatif yang lebih luas,” jelas Manto.
Pencegahan Lewat Edukasi dan Kolaborasi
Dalam forum ini, Manto menyebutkan bahwa upaya pencegahan radikalisme dan terorisme juga dilakukan melalui edukasi di lingkungan pelajar dan mahasiswa.
“Kita berikan pemahaman yang benar, kita hadir di sekolah-sekolah dan kampus. Karena radikalisme itu tidak mengenal batas usia, bahkan yang muda lebih mudah terkontaminasi,” tegasnya.
Ia mengajak para jurnalis untuk turut menjadi mitra strategis dalam menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan toleransi, serta menghindari pemberitaan yang dapat memperkeruh suasana atau memberi ruang bagi kelompok radikal untuk menebar pengaruh.




