triggernetmedia.com – Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menyatakan fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga di tengah upaya pemerintah mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi. Sejumlah indikator, mulai dari pertumbuhan ekonomi, realisasi investasi, hingga kinerja perbankan, dinilai menjadi penopang stabilitas ekonomi nasional.
Dradjad memaparkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,4 persen pada semester I 2026. Sementara itu, tingkat inflasi tercatat sebesar 3,28 persen pada September 2026. Dari sisi investasi, realisasinya mencapai Rp1.539,2 triliun sepanjang Januari-September 2026, atau tumbuh 7,3 persen secara tahunan (year on year/yoy).
“Hal yang menggembirakan adalah Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur. Sebelumnya berada di bawah 50, kini meningkat menjadi 52,4. Kita tahu bahwa PMI di atas 50 menunjukkan ekspansi. Sektor manufaktur juga menjadi salah satu penyumbang yang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi,” ujar Dradjad, dikutip dari siaran pers, Minggu (25/10/2026).
Ia juga menyoroti penurunan angka kemiskinan, tingkat pengangguran terbuka yang berada di level 4,65 persen, serta rasio Gini sebesar 0,368. Menurutnya, rasio Gini yang semakin rendah menunjukkan tingkat ketimpangan yang semakin kecil.
Stabilitas ekonomi tersebut, lanjut Dradjad, memberikan ruang bagi sektor perbankan untuk memperluas pembiayaan produktif sekaligus menjaga kepercayaan investor.
Kinerja perbankan pada Agustus 2026 turut menunjukkan perkembangan positif. Penyaluran kredit tumbuh 13,65 persen, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 10,94 persen. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 24,10 persen, sementara rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) terjaga di level 2,11 persen.
“Stabilitas ekonomi tentu harus kita maksimalkan agar menghasilkan manfaat nyata. Bagi masyarakat, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah mencapai Rp250,43 triliun, sedangkan realisasi bantuan sosial mencapai Rp115,8 triliun. Ini menunjukkan bahwa negara masih memiliki kapasitas untuk mengalokasikan dana dalam jumlah besar bagi program sosial dan stimulus masyarakat,” katanya.
Selain itu, terdapat 26 proyek hilirisasi dengan nilai investasi Rp225 triliun yang diproyeksikan mampu menciptakan sekitar 37.833 lapangan kerja pada masa mendatang.
Berbagai capaian tersebut menjadi landasan bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi menuju 6 persen pada 2027 dan 8 persen dalam jangka menengah.
Dradjad menjelaskan, upaya mencapai target tersebut bertumpu pada tiga prasyarat utama, yakni pertumbuhan investasi yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), peningkatan produktivitas, serta penguatan ekspor produk bernilai tambah yang didukung sistem logistik efisien.
Untuk mendukung strategi tersebut, pemerintah berupaya memperkuat konsumsi rumah tangga, meningkatkan kualitas belanja publik, serta mempercepat investasi dan ekspor.
“Kita juga harus memastikan investasi dan perdagangan menjadi sumber pertumbuhan baru, bukan sekadar mempertahankan momentum yang sudah ada,” ujarnya.
Dalam rangka mempercepat investasi, pemerintah memperkuat kepastian berusaha melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025, penyederhanaan perizinan berbasis risiko, serta kepastian waktu pelayanan.
Pemerintah juga memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk menyelesaikan berbagai hambatan investasi. Menurut Dradjad, kepastian regulasi dan akuntabilitas menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan investor.
“Penyelesaian hambatan investasi juga diperkuat melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga, karena kepastian regulasi dan akuntabilitas adalah kunci kepercayaan investor,” tuturnya.










