triggernetmedia.com – Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda semakin berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah wilayah Jawa dan Sumatra mengganggu operasional penerbangan hingga mendorong sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Erupsi yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) tersebut dilaporkan berdampak di antaranya terhadap Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Selain sebaran abu, aktivitas gunung api juga disertai suara gemuruh dan getaran yang dirasakan di sejumlah wilayah.
Gangguan paling besar terjadi pada sektor penerbangan. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat sebanyak delapan bandara terdampak material vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan kondisi tersebut menyebabkan ribuan penerbangan mengalami gangguan dan penumpang tertahan di sejumlah terminal.
“Terhitung terdapat 1.558 flight yang tertunda dengan 170.000 penumpang tertahan,” ujar Dudy.
Pemerintah meminta maskapai memberikan pelayanan maksimal kepada penumpang terdampak. Informasi mengenai perubahan jadwal, pembatalan, maupun pengalihan penerbangan harus disampaikan secara berkala dan transparan.
Penumpang juga berhak mendapatkan opsi perubahan jadwal atau pengembalian tiket sesuai ketentuan yang berlaku. Maskapai diminta tidak membiarkan penumpang menunggu tanpa kepastian di tengah kondisi erupsi yang belum dapat dipastikan kapan berakhir.
Enam Bandara Diperpanjang Penutupannya
Hingga Senin (7/9/2026) pagi, pemerintah memperpanjang penutupan sementara enam bandara yang terdampak abu vulkanik. Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan potensi bahaya material vulkanik terhadap mesin pesawat dan keselamatan penerbangan.
Enam bandara tersebut adalah:
- Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK), pukul 23.20–08.59 WIB.
- Bandara Halim Perdanakusuma (HLP), pukul 23.26–08.59 WIB.
- Bandara Radin Inten II Lampung (TKG), pukul 23.23–08.59 WIB.
- Bandara Husein Sastranegara Bandung (BDO), pukul 23.31–08.59 WIB.
- Bandara Budiarto Curug (RTO), pukul 23.29–08.59 WIB.
- Bandara Pondok Cabe (PCB), pukul 23.36–08.59 WIB.
Untuk mengantisipasi penumpukan penumpang, Kemenhub menyiapkan sejumlah bandara alternatif, seperti Kertajati, Juanda Surabaya, Yogyakarta International Airport (YIA), serta bandara di Semarang dan Solo.
Pemerintah juga menyiapkan transportasi penghubung bagi penumpang yang penerbangannya dialihkan ke bandara alternatif. Angkutan tersebut disiapkan melalui koordinasi lintas instansi dan diberikan tanpa biaya kepada penumpang terdampak.
Sekolah di Jakarta dan Tangerang Terapkan PJJ
Dampak erupsi juga merambah sektor pendidikan. Sejumlah sekolah di wilayah Jakarta hingga Tangerang mengalihkan kegiatan belajar mengajar menjadi PJJ.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap penurunan kualitas udara akibat paparan abu vulkanik. Aktivitas belajar dari rumah dinilai dapat mengurangi paparan langsung terhadap kondisi udara yang tidak sehat.
Pemerintah daerah terus memantau perkembangan kualitas udara dan kondisi lingkungan sebelum menentukan kebijakan lanjutan terkait kegiatan pendidikan.
Abu Vulkanik Menyebar ke Jawa dan Sumatra
BMKG memantau pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menggunakan citra RGB Himawari-9 yang dipadukan dengan data PVMBG dan VAAC Darwin.
Analisis pada 6 September 2026 pukul 04.00 WIB menunjukkan terdapat dua klaster utama sebaran abu berdasarkan ketinggian dan arah pergerakan.
Klaster pertama berada pada ketinggian hingga 20.000 kaki dan bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sebarannya mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, serta sejumlah wilayah Jawa Barat seperti Bogor, Depok, Sukabumi, Cianjur, dan Bandung Barat.
Klaster kedua berada pada ketinggian hingga 50.000 kaki dan bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Sebaran ini menjangkau sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, hingga Sumatera Barat.
Sebaran abu juga terpantau di wilayah perairan Selat Sunda bagian selatan serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.
Dengan cakupan dampak yang terus dipantau, masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan instansi terkait. Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi keselamatan penerbangan dan aktivitas masyarakat di wilayah yang berada dalam jalur sebaran abu vulkanik.










