triggernetmedia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat sepanjang Mei 2026. Dalam sebulan terakhir, indeks tercatat terkoreksi hingga 13,10 persen dan sempat menyentuh level 5.900 sebelum kembali bertahan di atas 6.000.
Pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026), IHSG ditutup di level 6.162,05 setelah sebelumnya bergerak fluktuatif. Meski sempat menguat 1,10 persen pada akhir pekan, tekanan terhadap pasar modal domestik masih dinilai besar.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran pelaku pasar karena koreksi terjadi tanpa adanya krisis kesehatan global seperti pandemi Covid-19 pada 2020 lalu.
Data perdagangan menunjukkan tekanan pasar dipicu sejumlah faktor eksternal dan domestik yang terjadi hampir bersamaan dalam beberapa pekan terakhir.
Salah satu faktor utama berasal dari keputusan MSCI yang mengeluarkan enam saham emiten besar Indonesia dari MSCI Global Standard Index pada 12 Mei 2026. Saham yang terdampak yakni DSSA, BREN, AMMN, AMRT, CUAN, dan TPIA.
Langkah tersebut mendorong aksi jual investor asing, terutama dari pengelola dana pasif dan exchange traded fund (ETF) global. Sepanjang tahun berjalan, aksi jual bersih asing disebut telah mencapai Rp50,63 triliun.
Tekanan juga datang dari FTSE Russell yang turut mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeks global mereka.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.668 per dollar AS memicu spekulasi pasar mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menekan sektor perbankan dan properti yang selama ini menjadi penopang utama kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia.
Sentimen negatif pasar juga dipengaruhi ketidakpastian global, termasuk perang Amerika Serikat dan Iran, serta respons investor terhadap kebijakan ekspor satu pintu komoditas melalui Danantara Sumberdaya Indonesia.
Pelaku pasar menilai kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan distorsi pasar dan meningkatkan risiko inefisiensi.
Jika dibandingkan dengan periode krisis sebelumnya, tekanan pasar pada Mei 2026 dinilai memiliki karakter berbeda.
Pada masa awal pandemi Covid-19 tahun 2020, pasar saham memang mengalami tekanan tajam. Namun saat itu penyebab krisis dinilai lebih jelas dan dapat direspons melalui stimulus fiskal serta program vaksinasi.
Sementara pada Mei 2026, tekanan datang dari kombinasi faktor global, pelemahan rupiah, aksi jual asing, hingga sentimen kebijakan ekonomi domestik yang terjadi secara bersamaan.



