triggernetmedia.com – Harga Bitcoin melemah 2,5 persen dalam 24 jam terakhir ke level US$ 66.200, setelah sebelumnya sempat berada di kisaran US$ 68.500. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan luas di pasar aset berisiko.
Menurut laporan CoinDesk, koreksi harga kripto terjadi seiring dengan pelemahan bursa saham AS dan menguatnya dolar Amerika Serikat.
Pemicu utama datang dari risalah rapat Januari Komite Pasar Terbuka Federal yang dirilis Federal Reserve. Risalah tersebut menunjukkan bank sentral AS belum melihat urgensi pemangkasan suku bunga dan bahkan membuka peluang pengetatan lanjutan jika inflasi kembali meningkat.
Penguatan dolar AS menekan Bitcoin yang kini mencatatkan lima pekan penurunan beruntun, terburuk sejak pasar bearish 2022. Secara teknikal, area US$ 66.000 menjadi level krusial yang tengah diuji pasar.
Jika level ini jebol, pelaku pasar mulai mengantisipasi penurunan lanjutan menuju kisaran US$ 60.000. Sebaliknya, bertahannya area support berpotensi memicu pemantulan jangka pendek, meski sentimen pasar masih dibayangi kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.




