triggernetmedia.com – Kinerja layanan bongkar muat di sejumlah pelabuhan domestik menjadi sorotan pelaku usaha logistik. Penurunan produktivitas dinilai berdampak langsung terhadap keterlambatan pengiriman barang serta peningkatan biaya operasional. Pemerintah pusat pun diminta turun tangan untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Trismawan Sanjaya mengatakan, keluhan datang dari hampir seluruh wilayah, terutama pelabuhan domestik. Keterbatasan jumlah dan kemampuan alat bongkar muat menyebabkan antrean kapal semakin panjang.
“Sudah sering dan banyak keluhan dari pelaku usaha hampir di seluruh pelabuhan, khususnya pelabuhan domestik. Masalah utamanya adalah keterbatasan alat bongkar muat yang menurunkan produktivitas,” ujar Trismawan, Rabu (11/2/2026).
Laporan anggota ALFI di Jawa Tengah dan Jawa Timur menunjukkan keterlambatan pengiriman semakin sering terjadi. Jadwal sandar kapal molor karena rendahnya kinerja alat bongkar muat, sehingga mengganggu rantai distribusi barang.
Menurut Trismawan, peningkatan aktivitas logistik laut domestik seharusnya diimbangi dengan peningkatan layanan pelabuhan. Jika tidak, biaya logistik akan terus meningkat dan akhirnya dibebankan kepada konsumen.
Dampak tersebut juga dirasakan perusahaan logistik darat. Utilisasi truk menurun akibat ketidakpastian waktu bongkar muat, sementara biaya operasional terus meningkat. Selain itu, tumpang tindih regulasi dan keterlibatan banyak instansi turut memperlambat proses logistik.
Di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Ketua ALFI Jawa Timur Sebastian Wibisono menyebut produktivitas bongkar muat di Terminal Peti Kemas Nilam dan Mirah hanya sekitar 10 kontainer per jam, jauh di bawah kapasitas ideal 30–40 kontainer per jam. Sebagian alat dinilai sudah berusia tua.




