triggernetmedia.com – Di tengah sistem keamanan perbankan yang semakin canggih, ancaman kejahatan digital masih mengintai. Modus phishing dan rekayasa sosial (social engineering) menjadi cara paling umum pelaku siber membobol data nasabah, memanfaatkan kelengahan manusia.
Supervisor IT Security PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Ferdinan Marlim, mengatakan bahwa pelaku kini lebih banyak menyasar faktor manusia ketimbang menembus sistem teknologi. “Phishing dan social engineering ini sangat umum. Untuk perusahaan, banyak serangan phishing lewat email karena itu cara paling mudah untuk masuk,” kata Ferdinan, Senin (9/2/2026).
Ia menambahkan, banyak kasus kebocoran data berskala global bermula dari keberhasilan pelaku memanipulasi korban agar menyerahkan informasi sensitif, seperti user ID dan kata sandi. “Sistem perbankan sebenarnya tidak mudah ditembus, tapi manusia sering menjadi titik lemah dalam rantai keamanan digital,” ujarnya.
Selain pencurian data, serangan siber juga bisa mengganggu layanan transaksi, misalnya melalui Distributed Denial of Service (DDoS), yang membuat sistem sibuk sehingga tidak mampu melayani nasabah.
Untuk mengantisipasi ancaman ini, BCA menerapkan strategi keamanan berbasis tiga pilar utama: people, process, dan technology. Ferdinan menekankan, teknologi canggih tidak akan efektif tanpa kesiapan dan kesadaran sumber daya manusia. “Tidak bisa hanya pasang teknologi, tapi orangnya tidak capable dan tidak aware,” ujarnya.
BCA rutin mengadakan edukasi, simulasi penipuan, dan uji coba phishing internal untuk mengukur kesiapan karyawan menghadapi ancaman digital. “Kami lihat berapa banyak yang meng-klik dan input data. Ini untuk memastikan karyawan benar-benar aware,” tutup Ferdinan.











