triggernetmedia.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah muncul laporan bahwa Washington tengah menyiapkan opsi serangan militer. Salah satu sinyal paling nyata adalah pergeseran gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dari Laut China Selatan menuju wilayah operasi Komando Pusat AS (CENTCOM).
Koresponden Gedung Putih News Nation, Kellie Meyer, mengungkapkan pemindahan tersebut melalui media sosial pada Kamis (15/1/2026). Sumber internal menyebutkan perjalanan kapal induk bertenaga nuklir itu ke Timur Tengah diperkirakan memakan waktu sekitar satu pekan.
USS Abraham Lincoln merupakan kapal induk kelas Nimitz yang dapat mengangkut sekitar 90 pesawat tempur, termasuk jet F/A-18 dan pesawat peringatan dini E-2 Hawkeye, dengan dukungan dua reaktor nuklir.
Sebagai respons terhadap situasi keamanan, Iran sempat menutup wilayah udaranya melalui penerbitan NOTAM. Data FlightRadar24 mencatat hanya sedikit pesawat yang melintas setelah kebijakan itu diterapkan. Maskapai internasional, termasuk Lufthansa Group, mengalihkan rute penerbangan mereka untuk menghindari Iran dan Irak.
Militer AS juga meminta sebagian personel di pangkalan strategis di Timur Tengah, termasuk di Qatar, untuk bersiap melakukan evakuasi. Meski pejabat AS menyebutnya sebagai penyesuaian postur pertahanan, Reuters melaporkan bahwa opsi serangan terhadap Iran telah berada pada tahap kesiapan tinggi.
Situasi semakin kompleks setelah Presiden Donald Trump kembali melontarkan tekanan terhadap NATO dan menyinggung pentingnya Greenland dalam sistem pertahanan rudal AS, yang dinilainya krusial untuk menghadapi ancaman Rusia dan China.




