triggernetmedia.com – Langkah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengakuisisi Hotel Novotel Makkah Thakher City di Arab Saudi menuai kritik dari pengamat ekonomi. Kebijakan tersebut dinilai berisiko dan tidak sejalan dengan mandat Danantara dalam mendorong investasi domestik.
Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan mengatakan, karakter bisnis perhotelan di Mekkah sangat musiman dan bergantung pada periode haji.
“Hotel di Mekkah hanya ramai sekitar satu bulan dalam setahun. Di luar itu, tingkat hunian berpotensi rendah sementara biaya operasional tetap berjalan,” ujar Herry, Senin (22/12/2025).
Menurut dia, kapasitas hotel yang terbatas juga membuat manfaat investasi menjadi minim jika dikaitkan dengan kebutuhan jemaah haji Indonesia yang jumlahnya mencapai sekitar 200.000 orang per tahun. Selain itu, pasar umrah bersifat kompetitif sehingga Danantara tidak dapat mengarahkan penggunaan hotel secara langsung.
Herry menilai Danantara seharusnya memfokuskan investasi di dalam negeri sesuai mandat Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2025 dan Undang-Undang BUMN Nomor 16 Tahun 2025. Ia menyoroti kontribusi investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang masih sekitar 29 persen.
“Peran Danantara semestinya memperkuat investasi domestik agar pertumbuhan ekonomi dapat dipacu lebih tinggi,” katanya.
Dari sisi tata kelola, Herry menyebut kepemilikan aset properti di luar negeri berpotensi menimbulkan risiko hukum dan audit jika tidak disertai kejelasan status kepemilikan. Ia menilai skema sewa jangka panjang dapat menjadi pilihan yang lebih efisien.
Ia mengingatkan bahwa setiap keputusan investasi harus dilakukan dengan perhitungan matang agar tidak menimbulkan persoalan hukum dan kerugian negara di kemudian hari.

