triggernetmedia.com – Oknum pendidik di Kota Pontianak, berinisial HS, baru-baru ini ditetapkan sebagai tersangka dalam sebuah kasus yang mengejutkan masyarakat, Kepolisian mengungkap bahwa HS diduga melakukan perbuatan tidak terpuji terhadap siswinya sendiri, dengan modus bujuk rayu dan ancaman.
Saat ditemui media, Sabtu (5/8), korban mengungkapkan bahwa HS tidak hanya sekali, melainkan hingga lima kali melakukan pelecehan.
Korban mengalami kejadian traumatis ketika pertama kali mengenal HS, yang juga merupakan pembina yayasan di sekolahnya.
HS awalnya mengajak berkenalan melalui media sosial Facebook, secara bertahap membangun hubungan dengan memberi tanda suka pada status dan foto-fotonya.
Melalui percakapan daring, HS akhirnya meminta nomor WhatsApp, dan dalam waktu singkat berhasil membuat Ia merasa nyaman dengan komunikasi yang terjalin.
Pada pertemuan pertama di luar jam sekolah, HS membujuknya untuk mengunjungi sebuah hotel di Kecamatan Pontianak Kota, di sana HS pertama kali melakukan perbuatan tidak terpuji dengan menggunakan ancaman dan kekerasan.
Kejadian ini ternyata bukan hanya sekali terjadi, tetapi berulang hingga lima kali, yang mengakibatkan Ia hamil.
Dalam usia kehamilan tujuh minggu, Ia berani menyampaikan kondisinya, namun HS dengan tegas membantah keterlibatannya dalam kehamilan tersebut dan bahkan mengancam dengan tuduhan perzinahan.
Keputusasaan membuatnya mencari bantuan di kantor KPPAD Kalbar, tetapi sayangnya, pada saat itu kantor tersebut dalam keadaan kosong.
Kisah tragis ini mencapai puncaknya ketika HS memaksanya untuk melakukan aborsi. Pada tanggal 9 Oktober 2022, Ia dibawa ke Jakarta dan dihadapkan pada situasi yang sangat mengerikan.
Di tempat tersebut, Ia berusaha melarikan diri, namun usahanya gagal dan ia dipaksa melakukan aborsi oleh HS dan tiga orang lainnya yang ada di lokasi.
Selanjutnya, Ia juga mengungkapkan bahwa setelah aborsi, HS masih melakukan perbuatan tidak terpuji terhadapnya.
“Sakit sekali, habis di aborsi, lalu di sodomi, sakit sekali, lalu saya tidak sadar, sadar pas jam 2, saya tiba – tiba disodomi lagi,” ujarnya sembari menangis.
Korban menggambarkan pengalaman yang penuh rasa sakit dan trauma, dan merasa terjebak dalam situasi yang mencekiknya, “Saya cuma ingin dapat keadilan, dan kasus ini cepat selasai, karena ini sangat mengganggu saya, sekolah juga terbengkalai,” harapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa HS pernah menawarkan uang dalam jumlah besar agar kasus ini tidak terungkap, tetapi ia menolak tawaran tersebut dengan tegas.
sumber berita: berbagai sumber



